Saturday, October 26, 2019

[Book to Drama] Nightfall (Ever Night) - Mao Ni Bagian 1: The Book


Judul                     : Nightfall (Ever Night)
Judul Asli              : Jiang Ye
Pengarang            : Mao Ni
Tahun                    : 2011
Drama                   : Ever Night (2019)
Rating                   : 5 of 5 stars




Chang An, capital of Tang, the most powerful empire in the continent. A heaven wrecking massacre shook the city to its core. Amidst the incident, a young boy named Ning Que managed to get away, dug out from a pile of corpses along with a little girl called Sang Sang. Years passed, and since that day the two of them lived together. Together with Sang Sang they both entered the military, with plausible military achievements, they were rec ommended into the Scholar School, which began their miraculous journey.

Who is this boy and what does his future hold?

The epic and legendary tale of an extraordinary young man rising up from the masses, traversing his life in the pursuit of quantity over quality. His inquisitive voice echoes infinitely through the hills of the immortal Academy: “I am one who would rather suffer an eternity of destined calamities than beg for solace from the saints…”


Bertahun-tahun yang lalu Jenderal Lin dituduh melakukan pemberontakan dan Sang Jenderal serta seluruh penghuni rumahnya dijatuhi hukuman mati. Satu-satunya penghuni kediaman yang selamat adalah Ning Que, bocah kecil yang kemudian bersumpah akan membalas dendam akan kematian orang tuanya dan seluruh penghuni kediaman Jenderal Lin.

Tetapi jalan hidup yang dilalui Ning Que tidaklah mudah. Bersama SangSang, pelayan kecil yang dipungut Ning Que dari tumpukan mayat semasa gadis itu masih bayi, mereka berdua mengarungi kehidupan yang keras, miskin dan kadang terjebak dalam keadaan hidup atau mati.

Hidup Ning Que mulai berubah ketika ia memasuki Akademi Kerajaan Tang. Ia mulai mempelajari kultivasi yang memang sangat diminatinya, tidak peduli berapa banyak orang yang mengatakan bahwa ia tidak memiliki bakat dibidang tersebut. Malah itu menjadi pemicu bagi Ning Que untuk belajar lebih keras. Dan kerja keras serta tekad yang kuat itu membawa Ning Que menjadi murid ketiga belas dan murid terakhir dari Fu Ze, kepala sekolah Akademi. Berbagai tugas dari Akademi maupun Kerajaan yang dipercayakan kepada Ning Que juga bisa diselesaikannya dengan baik.

Keberhasilan ini semakin mendekatkan tujuan Ning Que dalam membalas dendam. Karena Xia Hao, jenderal yang memimpin pembantaian di rumah keluarga Lin adalah seorang jenderal besar dengan prestasi hebat dan ilmu luar biasa. Terutama, Xia Hao juga didukung oleh permaisuri Xia Tian yang adalah adik perempuannya.


Novel Nightfall yang berjudul asli Jiang Ye dengan drama TV berjudul Ever Night adalah sebuah buku bantal yang terdiri dari seribuan episode. Jadi saya lumayan bingung memikirkan cara meringkas isi buku ini karena yang saya tuliskan diatas bahkan belum menyentuh inti dari buku ini sendiri. Pembalasan dendam Ning Que ibarat pembuka dari jalan cerita yang sesungguhnya.

Inti cerita sebenarnya adalah mengenai sebuah ramalan akan datangnya Everlasting Night atau Malam Abadi dimana cahaya akan menghilang dan dunia dihancurkan. Malam Abadi ini dibawa oleh putra Yama (Yong Ye) yang diramalkan akan muncul dari kediaman Jenderal Lin. Sekte Cahaya yang merupakan penganut ajaran Haotian Taoism ingin membinasakan putra Yama ini sebelum ia tumbuh besar dan membawa kehancuran ke dunia. Maka, terjadilah pembantai di kediaman Jenderal Lin.

Yang menjadi pertanyaan semua orang, benarkan Ning Que adalah putra Yama seperti yang diramalkan? Ataukah ada kandidat lainnya seperti Long Qing, pangeran dari kerajaan Yan yang dijuluki sebagai Putra Cahaya dan menyimpan dendam kesumat kepada Ning Que? Dan bagaimana reaksi Ning Que saat tahu kalau pelayan kecilnya, SangSang, terpilih sebagai Pendeta Cahaya yang notabene akan menjadi pihak yang berseberangan dengannya?

Nah, itu dia… dua paragraf diatas merupakan inti dari novel yang memiliki seribuan bab ini.

Capek nggak,  baca novel setebal ini? 

Iyaaa… capek banget. Tapi juga seru… :)

Apalagi karakter Ning Que yang berandalan, genit, dan tidak suka menuruti aturan ini sangat menarik untuk dibaca. Mr. Thirteen yang shameless ini suka tebar pesona kemana-mana hingga banyak yang jatuh hati padanya. Hanya sayangnya (bagi para gadis yang terpesona) tidak ada yang bisa menggantikan posisi SangSang dalam hidup Ning Que. 

Selain petualangan Ning Que, kisah cintanya dengan SangSang merupakan salah satu daya tarik buku ini bagi saya. Di setengah pertama buku karakter SangSang tidak terlalu menonjol. Sangsang tidak cantik, lembut ataupun modis. Kulit hitamnya sering diejek oleh Ning Que, pakaiannya pun hanya apa yang dibelikan oleh tuannya. Tidak anggun dan bergaya seperti gadis-gadis yang sering digoda Ning Que.


I have never been beautiful . Ning Que said that in the two years after he found me, I could not get any taller no matter what I ate, be it meat soup or rice soup . I was like a small mouse in his embrace … I am skinny, small and stuck with a dark complexion . Even my hair is messy . It's shapeless, and it's slightly bronze in color, like an autumn cabbage left to rot in the mud . I don't even look any better wearing new clothes during the new year season .

Ia gadis yang pendiam dan lebih sering berdiri dibalik bayangan tuan mudanya yang glamor. Ia tidak memiliki banyak teman karena dunianya penuh dengan keberadaan Ning Que dan kesehariannya diisi dengan melayani tuan mudanya tersebut. Walaupun begitu SangSang juga bukan karakter yang bisa dianggap enteng. Ia keras kepala dan juga setia kepada sedikit teman yang dimilikinya. Seperti yang dikatakan Ning Que, ia tidak pernah menang sekalipun melawan SangSang. Tetapi tidak ada yang mengetahui hal-hal ini, karena SangSang tidak suka menjadi pusat perhatian. Seperti yang dikatakan Mo Shanshan, gadis ayu yang berhasil mencuri sedikit sudut hati Ning Que:


She had met Sangsang on the first day they entered Chang'an. Beyond her expectation, Sangsang was a very ordinary handmaiden. Then, she saw Sangsang again today. The Sangsang she saw today was one that interacted with Ning Que alone.

SangSang yang dilihat dunia dan SangSang yang sedang bersama Ning Que adalah dua orang yang berbeda.

Bahkan ketika Ning Que jatuh hati kepada Mo ShanShan dan berniat menikahinya, SangSang tidak banyak bicara. Ia hanya mengangkat barang-barangnya dan pergi. Tinggallah Ning Qur yang kelabakan mencari kian kemari seakan-akan dunianya akan runtuh tanpa SangSang.


She looked at Ning Que and Sangsang who were eating in the Old Brush Pen Shop. Mo Shanshan finally believed that the two had already formed a world belonging to them many years ago. To them, everyone else in the world was outsiders, and any affairs of the world did not affect them either. It was difficult to leave even a trace in that world.

Bagian Ning Que dan Mo ShanShan ini sebenarnya membuat saya sedikit sakit hati. Berani-beraninya Ning Que jatuh hati kepada gadis lain selain SangSang! Apalagi ketika ia berencana untuk menikahi Mo ShanShan dan tetap ingin memiliki SangSang disampingnya. Hmmpphhh…! Tamak nian kau, Ning Que!

Dengan meninggalkan Ning Que, Sangsang memberi pilihan kepada laki-laki tersebut. Dirinya atau Mo Shanshan. Dan saya cukup lega ketika bagi Ning Que itu bukanlah pilihan. Ia dan SangSang akan selalu bersama sampai mati. Hanya sajaaa…. Pikiran Ning Que buat ngambil selir itu bikin saya pengen menjitak tuan muda yang satu ini. Untunglah SangSang sangat tegas tentang hal tersebut. Hahaha…


Paroh kedua buku ini lebih fokus kepada perjalanan SangSang dan Ning Que dalam mencari pengobatan untuk penyakit dingin Sangang. Dibagian ini sifat Ning Que juga sudah lebih dewasa dibandingkan paroh pertama buku. Di bagian ini juga paling banyak adegan-adegan sedihnya, terutama ketika Ning Que dan SangSang berusaha melarikan diri dari kejaran dunia yang bermaksud membunuh mereka. Saya bisa merasakan kelelahan keduanya, rasa putus asa yang mengelilingi mereka.

Di paroh kedua ini juga yang paling banyak berbicara mengenai Haotian Taoism dan juga Buddha. Bagian ini banyak saya skip kecuali yang penting-penting karena pengen langsung masuk ke aksi :)


Walau membaca buku ini membutuhkan waktu berhari-hari dan terpaksa stop sementara nonton Listening Snow Tower, tetapi ketika mengakhirinya ada kepuasan yang terasa. Rasa puas ketika membaca sebuah buku yang berhasil mengaduk emosi, membuat hati gelisah, tawa tersembur dan air mata merebak. Tidak banyak buku yang bisa membuat saya merasakan hal ini. Beberapa C-novel yang saya ingat adalah Heavy Sweetness Ash-like Frost atau lebih dikenal dengan Ashes of Love (baca: review Heavy Sweetness Ash-like Frost) dan juga Our Second Master (baca: review Our Second Master).

Banyak yang ingin saya ceritakan mengenai buku ini. Tentang Kepala Akademi yang luar biasa, Kakak-kakak senior yang lembut, disiplin dan sangat sayang pada adik ketiga belas mereka. Tentang mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan dunia padahal orang tersebut tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa.  Salahkah bila ia bertahan hidup walaupun pada akhirnya akan menghancurkan dunia?

Walaupun saya hanya menyinggung tentang hubungan Ning Que dan SangSang di review ini, sebenarnya ada banyak hal yang terjadi. Ada fanatisme agama yang mengesahkan kematian ribuan nyawa demi mencabut satu nyawa, ada juga kisah perebutan tahta yang diakhiri Ning Que dengan satu tebasan podao-nya, kisah seorang dewi yang jatuh ke bumi sebagai manusia dan harus belajar kembali mengenai emosi-emosi manusianya.

Kisah ini sangat panjang, dan tidak ada satu bagianpun yang membosankan…

Nah, untuk buku cukup segini dulu reviewnya. Tentang dramanya akan saya bahas dipostingan bagian 2 :)

(Baca: Review drama Ever Night/Nightfall)

notes: all pictures (except book cover) were taken from dramalist)



No comments:

Post a Comment