Thursday, July 11, 2013

[UnforgotTen] Catatan Musim by Tyas Effendi




Judul                     : Catatan Semusim
Pengarang           : Tyas Effendi
Penerbit               : GagasMedia
Tahun                   : 2012
Halaman              : 267
ISBN                      : 979-780-471-2
Rating                 : 2,5 of 5 stars


Gema dan Tia dipertemukan oleh hujan di sebuah shelter dekat Gereja Katedral Bogor. Dan lonceng gereja jugalah yang memisahkan mereka.

Pertemuan ini membawa kesan bagi keduanya. Apalagi kemudian mereka sering bertemu di shelter tersebut untuk menghindari hujan. Dan pertemuan-pertemuan tidak disengaja berikutnya membuat keduanya semakin dekat. Perasaan mereka berkembang walaupun tidak ada seorangpun yang saling menyatakan.

Tetapi nasib buruk menimpa Gema, membuat ia berpikir dirinya tidak pantas disandingkan dengan Tia. Sebuah jalan keluarpun datang dan ia mengambilnya, meninggalkan Tia menuju benua yang berbeda.

Masih penasaran, Tia berusaha menyusul Gema. Apakah kali ini mereka akan bisa bersama ataukah memang takdir yang menentukan bahwa mereka tidak bisa bersatu.

Bikin ringkasan novel ini sedikit membuat saya bingung. Kalau dinovel ini ringkasan cerita yang saya bikin pendek karena emang novelnya yang pendek banget, di Catatan Semusim ini saya malah ga tau mau menceritakan apa.

Pertama-tama saya mesti bilang I LOVE THE COVER! Saking sukanya saya pasang ukuran besar cover buku ini di postingan saya :)

Tema cerita yang diangkatpun bolehlah, apalagi menunggu di bawah shelter menunggu hujan reda bersama seorang cowok yang asyik mencoret-coret buku sketsanya lumayan romantis untuk dibayangkan. Dan walaupun Bogor tidak terlalu banyak dideskripsikan tetapi cukup memicu saya untuk mengenang kembali kota yang pernah saya singgahi 8 tahun yang lalu itu.

Tapi paling saya rasakan saat membaca buku ini adalah kurangnya chemistry diantara tokoh-tokoh kita. Dibilang kurangpun rasanya terlalu berlebihan. Tidak ada chemistry yang terasa diantara Gema dan Tia. Datar saja.

Dan karena cerita yang datar ini, apa kesan yang bisa saya tuliskan tentang buku ini?

Jelas tidak ada. Paling hanya tentang kota Lille, yang sama sekali tidak berasa Prancis (kecuali namanya).

Austin

Andrew

Mr. Stephan

Aaron

Miss Anne

Kalau saya menunjukkan kelompok nama diatas kepada orang-orang yang belum membaca buku ini dan bertanya dimana lokasi yang pantas untuk nama-nama diatas, saya hampir 100% yakin tidak akan ada yang mengatakan Prancis.

Untuk mendukung suasana Prancis dibuku ini mengapa tidak menggunakan nama-nama khas Prancis? Untuk Austin bisalah ditenggang dikit karena emang berasal dari Amerika. Tapi untuk nama-nama lainnya kenapa tidak menggunakan nama Pierre, Jacques, Anton atau Jean Luc misalnya? Alih-alih menggunakan Mr. Stephan dan Miss Anne kenapa tidak diganti menjadi Monsieur Stevan atau Mademoiselle Antoinette?

Dan begitu banyak penggunaan kalimat-kalimat berbahasa Inggris sehingga saya merasa seharusnya setting cerita dipindahkan kesalah satu kota di Amerika atau Inggris saja.

Apa untuk menunjukkan bahwa settingan ceritanya diluar negeri? Kalau begitu gunakan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Prancis dan kemudian terjemahkan bagi pembaca yang tidak bisa berbahasa Prancis seperti saya.

Saya berharap ada spark yang menghangatkan buku ini, bukan hanya mendapatkan gigilan dari musim penghujan Bogor dan musim dingin Lille.
 


Buku ini merupakan salah satu buku dari Kado Untuk Blogger yang dihadiahkan oleh GagasMedia dalam menyambut ultahnya yang ke-10 tahun.

Silakan lihat kado yang lainnya :

Friday, July 5, 2013

[UnforgotTen] Coba Tunjuk Satu Bintang by Sefryana Khairil



Judul                  : Coba Tunjuk Satu Bintang
Pengarang           : Sefryana Khairil
Penerbit               : GagasMedia
Tahun                   :2013
Hal                        : 208
ISBN                     : 979-780-642-2
Rating                   : 2 of 5 stars 



Spoiler!

Marsya dan Dio seharusnya menikah 3 tahun yang lalu. Persiapan pesta pernikahan sudah mencapai tahap akhir saat Dio memutuskan untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan Marsya. Marsya ditinggal sendiri meratapi hatinya yang patah.

3 tahun berlalu dan Dio pun juga mulai menyesali keputusannya melepaskan Marsya. Ia memutuskan liburan ke Indonesia untuk merebut hati Marsya kembali. Tapi apa daya, ternyata sudah ada sosok lain yang mendampingi Marsya.

Terus.. apalagi ya? yah itu aja sih. Mungkin ringkasan cerita ini yang terpendek yang pernah saya buat. Mau bagaimana lagi, ceritanya emang pendek. Bahkan menurut saya buku ini belum bisa dilabeli sebagai novel. Sebuah novella mungkin, tetapi yang jelas bukan novel.

Pas pertama buka buku ini dan membalik-balik halamannya yang terpikir oleh saya adalah berapa halaman sih naskah asli novel ini? Sampaikah 100 halaman folio dengan spasi 1,5? Hmm... rasanya tidak. Jumlah halaman novel ini adalah 208 halaman dengan ukuran huruf yang lumayan besar untuk sebuah novel.

Ada banyak halaman kosong yang hanya berisi sebaris kalimat kutipan saja. Saya ga tau apa beda kutipan di halaman kosong ini dengan kutipan-kutipan yang diletakkan di bawah bab-bab baru. Menurut saya sih tujuan hanya nambah-nambah halaman saja biar keliatan tebel.

Balik lagi ke cerita, setelah memulai perjalanan UnforgotTen dengan Andai Kau Tahu dan kemudian dipanaskan oleh Camar Biru, saya seolah dibenamkan ke danau es saat membaca buku ini. Tidak ada latar belakang tokoh yang jelas. Setting tempat pun baru saya ketahui setelah membaca setengah buku ini (ternyata di Jakarta saudara-saudara!).

Kalau tidak diberitahukan, saya malah merasa settingannya cerita ini di Manado. Soalnya satu-satunya keterangan lokasi di novel ini adalah Bunaken. Yah, kali-kali aja mereka tinggal deket situ. Atau bisa juga dipindahkan ke Padang, kota kecil saya. Segitu tidak jelasnya settingan lokasi cerita ini.

Dan sepanjang cerita satu pertanyaan yang masih tidak terjawab. Impian si Dio itu apa sih?

Bukankah itu inti persoalan di cerita ini? Dio meninggalkan Marsya beberapa saat sebelum pernikahan karena ingin mengejar impiannya?

Awalnya saya pikir si Dio ini ahli astronomi. Mungkin dia pergi ke Jerman untuk melanjutkan sekolah atau gimana? Tapi rasanya juga ga, karena di bagian-bagian awal diceritakan mengenai Dio yang sedang berada di kantornya di Jerman dan hendak berlibur ke Indonedia. Dan yang lebih penting lagi, Dio ini kerjanya apa sih? Apaaaaa....?!?

Setelah selesai membaca buku ini saya (sedikit) berani menyimpulkan bahwa impian Dio yang menyebabkan ia meninggalkan Marsya adalah agar bisa membuktikan kepada keluarganya ia juga bisa sama/lebih baik dari kakaknya Fandi dan sedikit dianggap oleh keluarganya. Oleh karena itu saat mendapatkan tawaran kerja keluar negeri ia langsung menyambarnya (informasi ini saya dapatkan setelah membaca tigaperempat buku).

Yang jadi pertanyaan saya, kalau emang mau kerja di luar negeri kenapa mesti mutusin pertunangan dengan Marsya? Di gondol aja itu si Marsya ke Jerman, abis cerita. Toh Marsya juga ga kerja kantoran.

Dan yang paling aneh dari cerita ini adalah tingkah laku temen-temennya si Marsya, Kimmy dan Rama. Selama 3 tahun mereka melihat Marsya menderita ditinggalkan Dio, tapi pas Dio balik kok malah mereka yang sibuk-sibuk mau nyatuin mereka berdua? Sampai-sampai ketika Marsya bertunangan dengan Andro malah mereka yang bersikap seolah paling dikhianati.

Ini aneh menurut saya. Saat kita melihat seorang sahabat disakiti oleh orang lain apakah kita akan berusaha menjodohkan si sahabat dengan orang yang telah menyakitinya itu lagi?

Oh ya, satu hal lagi yang bikin saya bertanya-tanya. Si Dio ini liburan/cuti berapa lama sih? Dua minggu? Sebulan? Atau malah cuti sabatikal (siapa tahu si Dio ini dosen, kan profesinya ga jelas)?

Kenapa saya pertanyakan hal ini? Anggap aja deh Dio ambil cuti sebulan. Dalam sebulan itu Marsya ketemu Andro (Pemuda yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya, hal 35) saat sedang mengasingkan diri ke pusat gravitasi bumi (jujur saya bilang saya ga tau itu dimana pusat gravitasi bumi. Tanya uncle google jawabannya juga ga jelas. Ada dibilang Ka’bah pusat gravitasi bumi, ada juga segitiga bermuda. Mungkin yang terakhir ini yang paling cocok karena ternyata Marsya pergi ke pantai).

Terus keempat sahabat jalan-jalan ke Bunaken, ga banyak cerita Marsya kemudian jadian dengan Andro (Pemuda yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya), dilanjutkan dengan pesta pertunangan Marsya dan Andro (Pemuda yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya) yang sepertinya lumayan ramai (dibuktikan dari deretan mobil parkir didepan rumah Marsya, kapan persiapan dilakukan nih). Terus Dio kecelakaan karena patah hati, Andro mengetahui kalau Dio ternyata mantannya Marsya dan keduanya ternyata masih saling menyimpan perasaan, Marsya tidak sengaja mendengar Dio yang berniat untuk melupakannya, Andro memutuskan pertunangannya dengan Marsya dan diakhiri dengan lari-lari ke bandara untuk mencegah Dio balik ke Jerman.

Ya ampyuuun Marsya, hidup lo bener-bener seperti telenovela (gue ga bakal bilang drama korea, gue suka drama korea). Dalam satu bulan 2 paragraf diatas terjadi dalam hidup lo dan gue jadi ngerti kenapa lo sampe ngambil semua keputusan bodoh itu! (Perhatikan perubahan bahasa saya saudara-saudara)

Yah, sebaiknya kesan-kesan saya tentang novel ini saya akhiri disini saja. Kalau ditambahkan beberapa halaman lagi bisa-bisa review saya ini dibukukan juga.

Akhirnya saya simpulkan novel ini hanya dengan satu kata.

D.A.N.G.K.A.L.


Buku ini merupakan salah satu buku dari Kado Untuk Blogger yang dihadiahkan oleh GagasMedia dalam menyambut ultahnya yang ke-10 tahun.

Silahkan lihat kado yang lainnya :

Thursday, July 4, 2013

[UnforgotTen] Andai Kau Tahu by Dahlian


Judul              : Andai Kau Tahu
Pengarang    : Dahlian
Penerbit         : GagasMedia
Tahun             : 2013
Halaman        : 365
ISBN              : 979-780-613-8

My Rating     : 3 of 5 stars

Pertemuan pertama Tania dan Reza disebabkan karena kecelakaan.

Pertemuan kedua adalah sebuah kebetulan.

Pertemuan ketiga? Tidak ada, karena Reza di palak Tania agar mengijinkannya tinggal di rumah Reza.

Tania sebelumnya melarikan diri dari rumah karena menolak dijodohkan dengan anak teman papanya dan pindah ke rumah pacarnya Hendrik. Tapi tak disangka, walaupun sudah tinggal serumah tidak menghalangi Hendrik main gila dengan perempuan lain. Terusir dari rumah Hendrik tidak ada tempat yang bisa dituju Tania. Untunglah ia kemudian bertemu dengan Reza.

Tinggal bersama Reza memberikan pengalaman yang berbeda bagi Tania. Ada banyak peraturan yang harus dipatuhinya. Dan bagi cewek manja ini, peraturan adalah sesuatu yang tidak biasa diikutinya. Sambil terus bertekad untuk kembali mendapatkan Hendrik, Tania harus tetap bertahan tinggal dirumah dokter kaku dan dingin tersebut.

Dari semua pilihan buku-buku UnforgotTen GagasMedia, buku inilah yang paling ingin saya baca. Sinopsisnya cukup menarik perhatian saya, tapi review-review yang saya baca di goodreadslah yang menimbulkan rasa penasaran saya kepada buku ini. Yang bikin saya bingung sih kenapa ya sinopsisnya sama sekali ga mencerminkan isi bukunya? Seperti menggambarkan cerita yang berbeda menurut saya.     

Saya suka ide ceritanya. Memang sih idenya sudah umum, tapi tetap saja bagaimana cara penulis menerjemahkan ide yang umum ini dengan kata-katanya sehingga membentuk sebuah cerita yang menarik dan menghibur adalah sesuatu yang membuat buku ini menjadi istimewa.

Cerita utama dari buku ini sebenarnya adalah pengenalan sifat-sifat Tania dan Reza yang sebenarnya saling dijodohkan (tetapi Tania tidak tahu dia dijodohkan dengan siapa). Walaupun merasa dirinya masih mencintai Hendrik, pacarnya yang vokalis tak tahu diri itu, Tania tidak bisa mengenyahkan perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dirasakannya kepada Reza.

Tania yang manja, ceplas-ceplos dan gampang naik darah ini membawa angin segar dalam kehidupan Reza yang klinis. Walaupun awalnya tidak tertarik dengan gadis yang dianggapnya a little bit silly ini, tapi toh akhirnya Reza luluh juga.

Novel ini cukup ringan dibaca. Bab-babnya lumayan pendek-pendek dan cerita mengalir dengan cepat sehingga tidak membuat kita bosan membacanya. Belum lagi dialog-dialog antara Reza dan Tania yang kadang bikin saya tertawa geli juga.

Karena novelnya ringan, tidak ada moment yang bakal bikin nangis atau terharu atau yang bisa bikin kita merenungi hidup. Walaupun saya sedikit sesak napas membaca gaya hidup Tania yang sangat bebas. Jujur saja, kalau membaca novel lokal biasanya saya menghindari tokoh-tokoh yang bertipe seperti ini. Itu makanya setelah selesai membaca buku ini saya merasa sedikit kecewa.

Dengan berpatokan pada sifat Reza yang disiplin, alim dan anti minuman keras ini, saya berharap ada perkembangan pada karakter Tania. Setidaknya menjadi sedikit lebih dewasa,  bertanggung jawab dan bermartabat. Tapi kenyataannya malah Reza yang terseret ke perangai buruk Tania. Hal ini sedikit menutupi kepuasan saya saat menyelesaikan buku ini.

Oh ya, ada beberapa hal yang saya bingungkan dalam buku ini yaitu penggunakan huruf miring untuk kata-kata berbahasa inggrisnya. Ada beberapa penggunaan kata yang berbahasa inggris dimiringkan hurufnya sedang beberapa yang lainnya tidak.

Contohnya penggunaan kata see atau fine yang dimiringkan hurufnya sementara kata “Miss Plastic Boobs” tidak dimiringkan. Bukan hanya satu atau dua, tetapi semua kata “Miss Plastic Boobs” ini sama sekali tidak dimiringkan. Apakah “Miss Plastic Boobs”bukan bahasa Inggris? Disengajakah atau memang terjadi kelalaian saat mengedit buku ini?

3 bintang saya sematkan untuk buku ini dan berharap bisa membaca karya-karya penulis yang lainnya.


 Buku ini merupakan salah satu buku dari Kado Untuk Blogger yang dihadiahkan oleh GagasMedia dalam menyambut ultahnya yang ke-10 tahun.

Silakan lihat kado lainnya :

Wednesday, July 3, 2013

Harry Potter July Meme & Giveaway


Bulan Juli sudah datang. Ini adalah bulan terakhir diadakan Hotter Potter event yang diselenggarakan oleh Melisa Mariani. Seperti biasa, sebelum mempostingan review HP 7, kita dijamu dengan meme yang berhubungan dengan Harry Potter.

Untu kali ini pertanyaannya adalah :

Favorite Moment in Movie



Ceritakan momen favorit kamu dari kedelapan film Harry Potter, mengapa kamu suka sama momen tersebut, sertakan gambar/video terkait. Boleh banget kalo kamu memilih momen yang aslinya tidak ada di buku.


Saat baca pertanyaan ini ingatan saya langsung melayang ke saat Harry dan Hermione berdansa berdua di film Harry Potter and The Deathly Hallows.




Nonton adegan ini di bioskop yang gelap dengan scene yang aura muramnya kerasa banget bikin saya jadi sendu. Kelihatan sekali kesedihan mereka berdua karena ditinggalkan Ron dan rasa putus asa karena jalan yang mereka lalui banyak halangannya.

Dan walaupun saya pendukung garis keras Harry & Ginny, tapi pas liat adegan ini bikin saya sempet mikir gimana kalo Harry jadian ama Hermione aja? Kalau dibukunya, tidak ada moment yang membuat saya sampai berpikir seperti ini. Hermione dan Ron adalah duplikat dari hubungan Mr & Mrs. Weasley.

Jadi, walaupun suka adegan ini, saya sempet jengkel juga ama yang bikin film karena sempat-sempatnya bikin saya meragukan kelanggengan Harry dan Ginny.

Ah,, rasanya ga pengen event ini berhenti :(