Wednesday, January 7, 2015

Re-Read, Read Big & New Author Reading Challenge 2015


Setiap awal tahun selalu ada kesibukan yang membayangi para blogger buku seperti saya. Apakah itu? Tak lain dan tak bukan: Mendaftarkan diri di Reading Challenge sebanyak mungkin!

Tahun lalu saya mengikuti sekitar 7 Reading Challenge. Setiap ada yang memposting RC bakal saya pantau dan bila sesuai dengan target bacaan saya pasti saya mendaftarkan diri. Bisa dibilang side bar blog saya dipenuhi oleh button-button RC yang saya ikuti (dan button-nya cantik semua!). Dan pada akhirnya saya hanya bisa menyelesaikan satu Reading Challenge saja.

Tahun 2014 juga merupakan tahun kegagalan saya sebagai seorang blogger buku. Ada sekitar 4 bulan saya kehilangan selera membaca yang kemudian membuat saya malas mereview. Praktis hanya ada sekitar 20 postingan di blog buku saya, dan tidak semuanya merupakan review buku. Benar-benar sesuatu yang sangat menyedihkan bagi saya :(

Oleh karena itu, untuk tahun ini saya membatasi hanya mengikuti 2 reading challenge saja (3 ama yang di Goodreads). Tidak banyak memang, tapi mengingat tahun kemaren hanya selesai 1 RC saja saya pikir 2 RC untuk tahun 2015 ini bisa saya selesaikan.

Selain itu, tahun kemaren saya berniat untuk membaca ulang buku-buku favorit saya yang sudah bertahun-tahun nangkring di rak buku. Tak tersentuh. Sayang kan punya banyak buku tapi cuma sekali dibaca. Saya ga bakal jadiin ini sebagai RC pribadi, tapi akan menjadi prioritas bacaan saya selama 2015.

Kalau mau diurai, inilah target bacaan saya selama tahun 2015 ini :


1.Re-read

http://browsingbookshelvesdotcom1.files.wordpress.com/2014/02/gailcarlsonlevine-quote2.jpg


Tahun lalu niat awal saya hanya mau membaca ulang semua koleksi harlequin saya yang terbit dibawah tahun 2000. Yang terpikir sih buku tipis gini paling bentar bacanya. Tapi ternyata gagal juga. Hahahaha…

Ketika ngeliat rak-rak buku saya nyadar ada banyak buku lama yang pengen saya baca ulang lagi seperti novel-novelnya Sidney Sheldon, Michael Chrichton, John Grisham,dll. Malah dua tahun lalu saya beli Gone With The Wind dan Scarlet edisi hard copy masing-masing cuma 50rb. Tapi bukannya dibaca, malah tersimpan rapi di lemari. Terakhir kali saya membaca utuh buku ini mungkin sekitar 15 tahun yang lalu!

Dan karena ada beberapa buku ini yang merupakan buku bantal jadi cocok juga dipadukan dengan Read Big Reading Challenge :)


2.Read Big Reading Challenge.



RC satu ini dihost oleh Alvina dimana tantangannya adalah membaca buku bantal alias buku dengan minimal ketebalan 500 halaman.

Bagi saya buku tipis atau buku tebal tidak ada bedanya, selama cerita yang disajikan mampu membuat saya terpesona.

Untuk RC ini ada pilihan level/kelas yang boleh diambil, mulai dari kelas bulu (1-4 buku), kelas menengah (5-8 buku) dan kelas berat (>8 buku). Kepercayaan diri yang berlebihan membuat saya tadinya mau mengambil kelas berat tapi akhirnya kesadaran mengambil alih dan saya putuskan mengambil kelas menengah. Apa yang menyadarkan saya? Syarat wajib reviewnya! Hehehehehe…

Trus ada challenge tambahan yaitu membaca minimal  1 buku dengan jumlah halaman >1000 halaman. Tantangan yang lumayan berat menurut saya. Dan kalau niat saya membaca Gone With The Wind terlaksana, bakal bisa memenuhi challenge tambahan ini (semoga!).

Untuk RC ini saya sudah menyelesaikan 1 buku yang saya baca diawal tahun ini ini yaitu Kitab Takdir. Reviewnya bisa dibaca disini.


3.New Author Reading Challenge



New Author Reading Challenge atau NARC yang diadakan oleh Ren merupakan satu-satunya RC yang berhasil saya jalani tahun lalu, selain yang di goodreads. Itupun berhasil saya jalani karena memang bacaan saya kebanyakan adalah dari pengarang baru. Keistimewaan bergabung dengan goodreads adalah menemukan banyak buku baru dari pengarang-pengarang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Tapi karena prioritas saya tahun ini adalah membaca ulang koleksi buku saya, untuk tahun ini target NARC akan saya turunkan dari biasanya saya mengambil level Maniac (>50 buku) menjadi level Middle (15-30 buku). Untung saja NARC tidak mensyaratkan harus mereview buku yang dibaca. Tapi setidaknya saya akan mengusahakan review singkat di goodreads.

Sedangkan untuk challenge tambahan, saya pikir saya akan ambil What’s in a Name dan e-Book lover. Alasannya? Karena bacaan saya sebagian besar ebook dan What’s In A Name merupakan RC favorit saya yang dulu juga di host oleh Ren.

Nah, itulah tantangan yang saya pilih untuk tahun 2015 ini. Semoga target ini bisa saya penuhi walaupun saya berjanji pada diri sendiri tidak akan maksa-maksain agar target terpenuhi. Tahun ini akan menjadi tahun santai bagi saya, membaca hanya saat diinginkan, bukan untuk memenuhi target :)


Friday, January 2, 2015

The Book of Fate (Kitab Takdir) by Brad Meltzer


Judul                     : The Book of Fate (Kitab Takdir)
Pengarang          : Brad Meltzer
Penerbit              : PT. GPU
ISBN                      : 9789792291865
Tahun                   : 2013
Halaman              : 680
Rating                   : 3 of 5 stars


Sinopsis:

Kunjungan Presiden Leland Manning ke balapan NASCAR berubah menjadi bencana. Seorang penembak gelap beraksi. Ron Boyle, anggota lingkaran dalam presiden, tewas. Wes Holloway, pemuda yang menjadi ajudan presiden, tertembak dan wajahnya rusak parah. Manning sendiri gagal memenangkan masa jabatan kedua.

Delapan tahun kemudian, Boyle hidup kembali. Wes menjadi buruan FBI, yang menduga dirinya terlibat dalam konspirasi penembakan Boyle. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Wes harus berhadapan dengan rahasia Freemason dan kode rahasia yang diciptakan oleh Thomas Jefferson dua ratus tahun lalu. Dia juga harus berhadapan dengan Tiga Serangkai, dan si penembak gelap yang kembali untuk menyelesaikan tugasnya.


Review:

Wes Holloway memiliki pekerjaan yang membanggakan. Pada usia yang masih terbilang muda ia telah menjadi asisten pribadi presiden paling berpengaruh di dunia, yaitu Presiden Amerika Serikat, Leland Manning. Tapi pada satu hari yang penuh sejarah, masa depan Wes yang cemerlang dan penuh dengan kemungkinan yang yang begitu luas malah tewas dengan menyedihkan.

Yaitu hari dimana terjadi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Manning. Presiden dan First Lady berhasil selamat dengan harga yang sangat mahal, sementara penasehat sekaligus sahabat presiden, Ron Boyle meninggal dunia. Sedangkan Wes sendiri? Ia menjadi korban peluru nyasar yang merusak  dan melumpuhkan separo bagian wajah Wes.


Delapan tahun kemudian Wes masih berstatus sebagai asisten mantan Presiden Leland yang tidak berhasil menjabat untuk kedua kalinya. Ketika sedang menemani Presiden Lelang berceramah di Malaysia Wes malah bertemu dengan sosok yang seharusnya sudah meninggal delapan tahun yang lalu, yaitu Ron Boyle. Wes memutuskan untuk menyembunyikan informasi ini karena tidak tahu siapa lagi yang bisa dipercayainya, apalagi setelah FBI datang mengetuk pintu memaksanya menceritakan apa yang dilihatnya di Malaysia.  Didorong oleh keinginan untuk mengetahui permasalahan apa yang telah membuat hidupnya hancur Wes memutuskan menyelidiki sendiri teka-teki ini, dengan dibantu oleh sahabat baiknya Rogo, wartawan gossip Lisbeth dan Dreidel yang membantunya bekerja di gedung putih.


Setelah selesai membaca buku ini sebenarnya saya merasa sedikit di PHP oleh sinopsis, terutama di kata-kata “rahasia Freemason dan kode rahasia yang diciptakan oleh Thomas Jefferson…”

Karena kata-kata ini yang terbayang di benak saya adalah cerita yang berputar disekitar rahasia organisasi Freemason yang memiliki jaringan begitu luas dengan latar belakang sejarah berumur ratusan tahun, konon bisa ditelusuri sampai ke zaman Raja Solomon. Tetapi nyatanya Freemason hanya disebut sesekali saja, itupun bukan sebagai dasar kasus yang membentuk novel ini dan hanya berhubungan dengan Nico si penembak jitu saja.

Sementara kode rahasia Thomas Jefferson juga tidak terlalu jelas. Dari lima kode yang ada di teka-teki silang milik Presiden Leland, hanya dua kode yang dijelaskan. Padahal kode-kode inilah satu-satunya petunjuk yang dimiliki oleh Wes untuk membongkar rahasia mengenai kejadian delapan tahun yang lalu. Apa makna titik dua, garis horizontal atau salib yang dicoret? Dan menurut saya, pencarian makna kode ini cukup bertele-tele dan beberapa bagian ada yang absurd. Contohnya keberadaan Martin Kassal, si ahli pembuat teka-teki. Satu-satunya tujuan keberadaan tokoh ini bukanlah untuk memecahkan teka-teki Presiden Manning, tetapi untuk memberikan info kepada pembaca mengenai kode rahasia Jefferson. Menurut saya perannya ini bisa diambil oleh oleh Boyle, toh ia sudah memecahkan teka-teki ini…

Walaupun begitu, secara keseluruhan novel ini cukup asyik dibaca. Intrik yang disajikan lumayan menarik walaupun tidak begitu rumit dan kita dibawa mengikuti kehidupan seorang Presiden yang telah lengser. Dan satu lagi yang menarik adalah kegigihan Wes untuk membuka rahasia kejadian delapan tahun yang lalu itu. Bukan untuk menyelamatkan Negara atau karena kesetiaannya kepada Presiden Manning, tetapi karena tekadnya untuk menyudahi masa lalu dan kembali menjalani hidupnya yang seolah jalan ditempat semenjak kejadian itu.

Catt: dan saya masih tetep ga ngerti kenapa buku ini diberi judul ‘Kitab Takdir’….

Wednesday, September 3, 2014

Al dente by Helvira Hasan





Judul                     : Al Dente (Waktu Yang Tepat Untuk Cinta)
Pengarang           : Helvira Hasan
Penerbit               : GagasMedia
Tahun                   : 2014
ISBN                     : 978-979-780-731-3
Halaman              : 256
Rating                  : 2,5 of 5 stars

Sinopsis :

Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.

Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan. Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan? Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku. Usah sisipkan kata cinta di dalamnya. Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?


Review :

Ben dan Cynara menikah karena perjodohan. Tapi itu bukan berarti mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Cynara dan Dita, adik Ben, malah berteman akrab, begitu pula para orangtua mereka. Tetapi tetap saja, ketika kedua orangtua menjodohkan mereka, Cynara sangat terkejut, Ben sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Yang lebih mengejutkan Cynara, Ben malah menerima perjodohan tersebut.

Setelah berpikir panjang dan memutuskan untuk berhenti mengharapkan cinta yang tak kunjung datang, Cynara akhirnya menerima perjodohan tersebut. Ben bukanlah lelaki yang diimpikannya untuk menjadi suami tetapi takdir mungkin sudah menuliskan seperti itu.

Pernikahan akhirnya dilaksanakan, dengan Lombok sebagai tempat tujuan bulan madu mereka. 2 minggu kemudian Ben dan Cynara pindah ke apartemen baru mereka. Saat sedang membereskan barang-barang Cynara menemukan album foto Ben, dan didalamnya terdapat foto seorang gadis yang diketahui Cynara dulu cukup akrab dengan Ben.

Saat ditanya Ben dengan jujur mengakui bahwa dulu ia pernah mencintai Milly, gadis di foto tersebut. Tapi cintanya ditolak dan sampai sekarang Ben masih tetap berteman dengan Milly. Cynara merasa curiga, kalau Ben sudah tidak mencintai Milly mengapa ia masih menyimpan foto gadis itu?

Permasalahan bertambah rumit ketika Elbert, cinta yang selama ini ditunggu oleh Cynara, muncul kembali kedalam kehidupannya. Haruskah ia mempertahankan pernikahan yang tidak diinginkannya ini dan mengejar cinta yang pernah terlepas?

Novel Al dente ini merupakan buku yang saya pilih sebagai hadiah saat menang giveaway di blognya Ren. Saya cukup bersemangat ingin membaca buku ini karena bercerita mengenai cinta yang datang sesudah pernikahan. Ditambah lagi dengan konflik cinta lama yang kembali mengusik.

Dulu Mama saya pernah berkata, kalau sudah menikah cinta itu pasti datang. Tapi saya tetap penasaran kapan rasa itu timbul, apa yang menyebabkannya dan di titik mana pasangan tersebut sadar bahwa mereka saling mencintai? Kapan mereka menyadari bahwa pernikahan mereka bukan lagi hanya hasil sebuah perjodohan tetapi juga mengikat hati mereka berdua?

Itu hal-hal yang saya harapkan dari buku ini. Dan jujur saja, saya sangat kecewa...

Apa yang saya temukan di buku ini adalah sebuah perselingkuhan. Tidak adanya niat dan usaha untuk memenuhi janji pernikahan dan mempertahankannya.

Kehadiran orang ketiga merupakan hal yang wajar di munculkan dalam sebuah cerita cinta. Konflik yang dihadirkan untuk menantang kedua tokoh utama agar jujur dengan perasaannya dan saling percaya satu sama lain. Tetapi di buku ini kemunculan orang ketiga hanya memperjelas perasaan tokoh kita Cynara bahwa ia menikah dengan Ben hanya karena memenuhi keinginan orangtua.

Cynara adalah tokoh yang lemah yang berusaha menutupi perasaan bersalahnya dengan menuduh Ben berselingkuh padahal sebenarnya ia yang melakukan hal tersebut. Setiap pertemuan-pertemuannya dengan Elbert membuat saya muak dan semakin tidak menyukai Cynara. Dan di sepanjang buku saya menemukan terlalu banyak kalimat-kalimat yang kurang lebih menyatakan bahwa Cynara tidak pernah menginginkan Ben sebagai suami. Seolah-olah pernikahannya dengan Ben adalah sebuah kawin paksa.

Kalau saya mengharapkan melihat sebuah perjuangan di buku ini, itu saya dapatkan dari Ben. Mungkin karena perbedaan usia mereka yang cukup jauh, Ben bersikap lebih dewasa daripada Cynara. Bahkan saat Cynara menuduhnya macam-macam, Ben mampu menanggapi dengan bijak. Bahkan porsi kemarahan Ben saat tahu Cynara berselingkuh juga cukup pas.

Satu hal lagi yang menurut saya kurang memuaskan adalah konflik yang mulai dimunculkan dalam rentang pernikahan yang begitu singkat. Hanya dua  minggu!

Bagaimana perasaan antara Cynara dan Ben akan tumbuh dan berakar hanya dalam waktu dua minggu? Bukanlah lebih baik orang ketiga ini dimunculkan misalnya setelah setahun pernikahan mereka? Dalam rentang waktu tersebut keduanya sudah cukup mengenal sebagai suami istri sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah memiliki perasaan yang mendalam tapi belum ada faktor yang memicu kesadaran tersebut.

Karena ini adalah sebuah novel romans, bisa dibilang saya sudah tahu bagaimana akhir ceritanya. Ben dan Cynara pasti bersatu kembali. Dan di sepanjang cerita saya berharap agar Cynara sadar dan berjuang mendapatkan cinta Ben yang telah disia-siakannya. Tapi apa daya, lagi-lagi harapan saya tidak terkabulkan. Ben dan Cynara memang akhirnya bersama, tapi kebersamaan mereka itu seolah “diberikan” bukan hasil dari perjuangan mereka. 

Jadi kesimpulannya, membaca buku seolah sedang menikmati spagetti yang baru semenit direbus. Belum matang...

Friday, August 8, 2014

Dear Prudence by @danniefaizal




Judul                     : Dear Prudence
Pengarang           : @danniefaizal
Penerbit               : Bentang Belia
Tahun                   : 2014
ISBN                     : 978-602-7975-79-8
Halaman              : 252
Harga                   : Rp. 44.000,- (normal)


Sinopsis

Astaga, rambut gue pitak! Senior gue memangkas jambul kebanggaan gue dengan asal. Demi Tuhan, di sini ada ratusan mahasiswi bening yang salah satunya mungkin bisa gue ‘prospek’ ke depannya. Dengan rambut pitak begini, paling cuma perawan tua penjaga kantin yang bisa gue pacarin. 

"Lo kaya Klingon."
Coba lo bayangin, itu tadi komentar salah satu mahasiswi cantik di kampus gue, Prue. Harga diri gue langsung terjun bebas ke jurang. Klingon, karakter absurd di film Startrek yang berjidat lebar dan jelek banget.

Tapi sejak saat itu gue jatuh cinta sama cewek yang ngatain gue dengan kejam itu. Setiap hari, selama hampir dua tahun gue terus mengejarnya. Teman-teman bilang gue bodoh karena rela nunggu terlalu lama. Nyokap gue malah bilang; bahwa arus hidup kadang membawa kita ke tikungan lain, dan menyarankan agar coba melihat cewek lain. Tapi gue kekeuh, gue nggak mau ikut tikungan lain itu. Dalam hal cita-cita pun begitu. Gue pengin jadi Motion Graphic Designer besar, pokoknya menghasilkan suatu karya besar yang bikin nama gue diingat orang banyak, nggak ada cita-cita lain.

Tapi gue nggak pernah tahu, apakah gue benar ataukah nyokap gue yang benar….


Review

Irvine jatuh cinta kepada Prudence sejak dipanggil Klingon oleh Prue di masa orientasi mahasiswa baru di kampus mereka. Sejak saat itu sampai bertahun-tahun kemudian ia setia mencintai Prue, menemaninya (shopping) saat cewek itu membutuhkannya dan terus berusaha mencari celah yang tepat untuk menyatakan cinta.

Tapi bertahun-tahun berusaha pendekatan Irvine kepada Prue tak kunjung memberikan hasil. Sementara itu hidup terus berjalan, membawa Irvine ke kiri dan ke kanan, melaju mulus kemudian terantuk di jalan berlubang, membawa Irvine yang berusaha mewujudkan mimpi dan meraih cintanya.

Biasanya saya berusaha memberikan rangkuman isi cerita yang lebih panjang dalam mereview, tapi kali ini saya pengen lanjut aja ke hal-hal yang saya pikirkan saat membaca buku ini.

1. Saya suka cover bukunya.

Walaupun bukan penggemar Beatles dan baru tahu kalau ‘Dear Prudence’ adalah salah salah satu judul lagu mereka (setelah membaca review-review buku ini di goodreads), saya mengenali adegan di cover buku ini. Saya pernah melihat salah satu videoklip Beatles dimana para bujang tampan itu sedang menyeberangi jalan dengan bertelanjang kaki (betul ga ya?). Cover buku ini sangat beraroma Beatles.

2. SUKAAA pembatas bukunya! 

Mungil, unik dan cantik. Sayangnya terbuat dari bahan yang terlalu tipis sehingga kurang bisa melaksanakan fungsinya sebagai pembatas buku. Saya harus beberapa kali mencari sebelum bisa menemukan dihalaman berapa pembatas buku ini berada. Ujung-ujungnya saya menggunakan pembatas buku lain yang selalu tersedia dikamar saya saat membaca buku ini. Sepertinya pembatas buku ini mesti saya laminating dulu supaya bisa digunakan...

3. Walau hal ini sudah sering terjadi, tapi tetep aja bikin saya sedikit kecewa. Saya terkecoh dengan sinopsisnya...


Dari sinopsisnya saya membayangkan settingan waktu cerita ini adalah saat Irvine berada di awal tahun ketiga kuliahnya. Lihat kata-kata “masa orientasi” dan “...selama hampir dua tahun gue terus mengejarnya” di bagian sinopsis.

Ternyata saya salah. Alur waktu di buku ini berpindah-pindah dari masa sekarang (sesudah tamat kuliah) dan kemudian meloncat ke masa lalu Irvine (saat magang kuliah). Untung saja perpindahan settingan waktu ini cukup jelas sehingga tidak membuat saya bingung.

4. “Daftar Isi” yang unik

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang terbagi lagi menjadi beberapa sub-sub bab. Setiap bab memiliki judul yang sama dengan salah satu judul lagu Beatles dan dilengkapi oleh gambar satu halaman penuh yang berbeda-beda tiap babnya. Yang uniknya, judul-judul bab ini dirangkum dalam sebuah ‘daftar isi’ di bagian awal buku dalam bentuk sebuah piringan hitam.

Saya kagum dengan kreatifitas dan keunikan penulis dan tim penerbit dalam mempersiapkan buku ini.

5. Tokoh-tokoh yang...

Sebagai tokoh utama di buku ini, Irvine sama sekali tidak membuat saya terkesan. Selama membaca buku ini saya merasa gemas (dalam artian negatif) kepada Irvine. Irvine bercita-cita untuk menjadi motion graphic designer ternama tapi ia meremehkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang dipercayakan kepadanya. Bukankah sesuatu yang besar bermula dari hal-hal kecil?

Sifatnya yang pemalas tapi ingin dihargai dan etos kerja yang buruk benar-benar membuat saya mengernyitkan dahi. Apalagi saya membaca buku ini tidak lama sesudah membaca Career First.

Perkembangan karakter Irvine juga tidak terlalu terasa. Bahkan setelah menyebabkan perusahaan tempatnya magang dituntut milyaran rupiah. Ataupun ketika ibunya meninggal (spoiler). Hanya dibagian akhir terlihat perubahan Irvine dimana cowok ini ternyata mencapai sukses bukan dari hal yang diimpikannya, tetapi dari hal yang disukainya. Saya cukup menyukai Irvine di bagian ini.

Prudence sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikan bagi jalan cerita. Setiap kali muncul kegiatan yang dilakukan oleh Prue adalah berbelanja atau menonton atau ke pesta. Satu-satunya momen saat saya bisa merasakan Prue adalah ketika Prue dan Irvine berlibur ke Kawah Putih. Yang juga merupakan satu-satunya adegan dimana Irvine benar-benar ‘bicara’ dengan Prue.

Lusy adalah satu-satunya tokoh yang menarik dibuku ini. Awalnya gadis ini terasa jutek dan sombong, atau terasa seperti itu karena saya mengenal Lusy dari sudut pandang Irvine. Tapi ternyata Lusy kemudian berubah menjadi teman tempat curhat Irvine tentang Prue. Kejutan terakhir mengenai Lusy membuat buku ini terasa manis buat saya :)

6. Judul?

Dear Prudence adalah judul buku ini. Tapi seperti yang saya tuliskan diatas, Prue sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikan di buku ini. Bukan Prue yang menjadi tokoh utama, bukan pula Prue yang menjadi jalan cerita.

Buku ini berkisah mengenai seorang Irvine Suherman. Mengenai mimpinya untuk menjadi mograph designer yang menghasilkan karya besar dan dikenang lama, pengalamannya magang di sebuah TV berita nasional, lelucon-leluconnya yang kadang lucu kadang garing, perjalanan hidup yang ditoreh duka, dan juga mengenai cintanya yang seperti bertepuk sebelah tangan.

Bahkan ketika Irvine mencapai kesuksesannya itupun juga bukan karena Prue, tetapi karena kelihaian Irvine mencurahkan perasaan tentang Prue.

Bagi saya buku ini lebih terasa menyenandungkan “Hey Jude” daripada “Dear Prudence”.


Ketika menerima buku ini dari penulis, saya mendapatkan sebuah catatan ucapan terimakasih dari penulis karena sudah bersedia mereview buku ini. Well, seharusnya saya yang berterimakasih kepada Mas Dannie karena sudah mempercayakan harta berharganya ini kepada saya.

Inilah review jujur saya mengenai buku anda. Dan seperti yang dinyatakan Yeast, “...I have spread my dreams under your feet; Tread softly because you tread on my dreams...”, semoga tidak ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan...

Dan sesuai tema buku ini yang begitu musikal, saya menulis review ini ditemani La Vie en Rose yang menurut saya sangat menggambarkan impian Irvine tentang Prue :)

Monday, July 7, 2014

Bacaan Saya: Kumpulan Dongeng Sedunia

Buku yang sangat berkesan bagi saya baik sewaktu kecil dulu sampe sekarang.





 Bacaan Saya: Kumpulan Dongeng Sedunia: Kumpulan Dongeng Sedunia merupakan salah satu buku yang paling bermakna dalam hidup saya. Bukan hanya karena buku ini hadiah kenaikan...