Showing posts with label Lauren Oliver. Show all posts
Showing posts with label Lauren Oliver. Show all posts

Sunday, October 2, 2016

Books Waiting To Be Released - October 2016




Sudah masuk bulan Oktober dan saya kembali lagi dengan postingan Books Waiting To Be Released. Semoga ini bukan postingan satu-satunya di bulan Oktober ini. Hahaha…

Seperti biasa, akhir tahun merupakan pesta buku baru bagi saya. Entah kenapa, kebanyakan penulis-penulis favorit saya memutuskan bahwa akhir tahun merupakan waktu yang tepat untuk meluncurkan buku-buku terbaru mereka. Apalagi untuk bulan oktober ini saja ada lebih dari sepuluh buku yang saya ingin baca. Tetapi tidak semua saya tampilkan di daftar ini.

Nah, berikut beberapa buku-buku incaran saya yang terbit bulan ini.


1. The Hammer of Thor - Rick Riordan (4 Oktober 2016)


Thor's hammer is missing again. The thunder god has a disturbing habit of misplacing his weapon--the mightiest force in the Nine Worlds. But this time the hammer isn't just lost, it has fallen into enemy hands. If Magnus Chase and his friends can't retrieve the hammer quickly, the mortal worlds will be defenseless against an onslaught of giants. Ragnarok will begin. The Nine Worlds will burn. Unfortunately, the only person who can broker a deal for the hammer's return is the gods' worst enemy, Loki--and the price he wants is very high.
The Hammer of Thor merupakan buku kedua dari seri Magnus Chase karya Rick Riordan. Tidak lagi berkiblat ke Yunani, di seri ini Riordan membawa legenda Dewa-Dewi Viking ke hadapan pembacanya. Sejujurnya sih, plotnya hampir sama saja dengan seri Percy Jackson, tapi karena kepiawaian menulis Riordan saya jadi nggak merasa bosan membacanya :)

Sunday, June 23, 2013

Delirium by Lauren Oliver




Judul                     : Delirium
Pengarang           : Lauren Oliver
Penerbit               : Mizan Fantasi
ISBN                     : 9789794336465
Halaman              : 515




Rating :  3 of 5 stars


Lena Haloway hidup didunia dimana cinta dinyatakan sebagai sebuah penyakit. Untungnya pemerintah telah berhasil meracik penawar untuk penyakit ini. Penawar ini baru akan diberikan setelah seseorang berumur 18 tahun. Dibawah umur tersebut, proses penyembuhan sangat berbahaya hingga bisa menyebabkan kematian.

Lena sudah tidak sabar ini menjalani prosedur penyembuhan ini. Ia ingin cepat kuliah dan kemudian membangun rumah tangga dengan jodoh yang telah dipilihkan olehnya. Tetapi sayangnya, saat saat hari prosedur penyembuhannya datang, acara tersebut dikacaukan oleh para Invalid, orang-orang yang menolak untuk disembuhkan.

Proses penyembuhan dianggap batal dan akan diulang beberapa bulan kemudian. Tetapi dalam masa penungguan ini Lena bertemu dengan Alex Sheates, cowok yang sudah mengalami prosedur penyembuhan tetapi malah menularkan penyakit cinta kepada Lena.

Pertamakali buku ini diterjemahkan saya sama sekali tidak tertarik membacanya. Sinopsis dibelakang buku mengingatkan saya akan sebuah film berjudul Equilibrium yang dibintangi oleh Christian Bale. Di film ini pemerintah mengontrol emosi warganya dengan memberikan suntikan obat yang harus mereka konsumsi setiap hari. Tindakan ini diambil karena dunia yang hancur setelah perang dunia ketiga, sehingga seorang ilmuwan muncul sebagai juru selamat dengan menciptakan obat tersebut. semua benda yang bisa menimbulkan rasa cinta dan ambisi ingin memiliki dihancurkan termasuk lukisan-lukisan seperti lukisan Monalisa, musik-musik klasik, dll.


Pada suatu hari Christian Bale yang berperan sebagai seorang Cleric, anggota pasukan pengaman, melewatkan satu sesi suntikannya dan pemandangan matahari terbit menggugah perasaan yang tertidur didalam dirinya.

Nah, mirip kan ceritanya?

Hanya saja versi Equilibrium jauh lebih bagus daripada Delirium ini. Suasana militernya sangat terasa, dan jangan harap para kaum pemberontak bisa menyelundupkan sapi ke dalam kota seperti yang dilakukan para Invalid di Delirium. Malah para pemberontak menjadi orang-orang yang berada di barisan depan upacara pidato harian pemerintah dan yang bertepuk tangan paling meriah, yang menunjukkan keahlian mereka berpura-pura dihadapan umum.

Dan saya sempat heran saat dengan mudahnya Hanna menemukan tempat dimana sebuah konser terlarang akan diselenggarakan. Melalui internet pula. Emang pemerintah ga bisa mencari hal-hal seperti itu? Apalagi kalo diliat para pengunjung konser itu banyak pula teman-teman sekolah Lena dan Hana.

Saya merasa Delirium ini mungkin terinspirasi dari film Equilibrium tapi dengan settingan YA. Hanya saja Delirium ini terasa lebih dangkal menurut saya dan kondisi dunia kurang meyakinkan. Tanggung. Ga ketat dan tidak juga lunak.

Yang jadi pertanyaan, kalo emang ga tertarik baca buku ini kenapa dibeli juga?

Yah, karena lagi obral 15 ribu sih. Hehehehe...

#Nunggu obralan Pandemonium