Sunday, January 15, 2017

Love, Interrupted by Maya Lestari GF



Judul           : Love, Interrupted
Pengarang  : Maya Lestari Gf
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
ISBN           : 9786020304236
Tahun          : 2014
Halaman     : 272
Rating         : 2,5 of 5 stars


Sungguh berisiko menerima perjodohan dengan lelaki yang mengaku mencintai orang lain. Itu yang terjadi pada Aisha ketika dijodohkan dengan Axel.

Pilihan yang tersedia untuk Aisha cuma dua: pura-pura bahagia hingga ia dan Axel berpisah setahun kemudian, atau mengabaikan sama sekali seakan pernikahan tidak pernah terjadi.

Tapi, Aisha memutuskan ada pilihan ketiga: membuat Axel jatuh cinta padanya. Dia yakin hati lelaki sekeras apa pun pasti bisa ditaklukkan selama perempuan memegang kunci-kuncinya. Namun dengan adanya perempuan lain yang selama ini berada di hati Axel, mampukah Aisha meluluhkan kekerasan hati Axel dan membuat pria itu jatuh cinta padanya?



Aisha dan Axel sepakat untuk menikah dan kemudian bercerai setahun kemudian. Masing-masing memiliki alasan mereka sendiri. Alasan Axel adalah ia tidak bisa menolak permintaan ibunya untuk menikah, sementara sang ibu tidak berkenan dengan Amelie, pilihan hati Axel. Menurut pendapat Axel ia akan memperlihatkan kepada ibunya bahwa tidak ada perempuan yang  bisa membuat Axel bahagia selain Amelie, pacarnya selama enam tahun terakhir ini.
Sementara Aisha karena ia memang sudah lama jatuh hati kepada Axel. Selain itu ia merasa tidak enak dengan dengan sanak saudara yang membiayai hidupnya semenjak Aisha kehilangan kedua orang tuanya bertahun-tahun yang lalu.

Dari awal pernikahan Aisha harus menghadapi sikap acuh Axel. Kadang suaminya itu tidak pulang ke rumah, dan kalaupun ada Axel lebih suka mengurung diri di kamar daripada berbincang dengan Aisha. Mulanya Aisha pasrah dengan keadaan ini, tetapi kemudian jiwa mandirinya berontak. Ia punya keuntungan sebagai istri sah Axel, kenapa tidak sekalian ia membuat suaminya itu jatuh cinta kepada dirinya?

Dengan memanfaatkan satu tahun perjanjian mereka, Aisha mulai merancang strategi untuk membuat Axel jatuh cinta kepada dirinya.


Tema marriage of convenience adalah salah satu tema favorit saya. Jadi saat melihat buku ini di iJak nggak perlu lama-lama mikir langsung saya pinjam.

Saat awal membaca buku ini saya sama sekali nggak ngeh kalau lokasi cerita ada di Padang, Sumatera Barat. Saya girang sekali saat sadar kalau kisah ini ternyata berlokasi di kota kecintaan saya. Bagi saya Padang itu the best city, ever! :)

Di buku saya merasa pengarang berusaha memperlihatkan kalau Padang bukanlah kota kecil terbelakang yang jauh tertinggal dari kota-kota lain. Padang juga punya pusat-pusat perbelanjaan, resto atau cafe yang punya franchise di seluruh Indonesia. Dan memang benar, di kota saya ini semuanya cukup lengkap. Ada restoran-restoran cepat saji di sini seperti Pizza Hut, KFC, McD, Texas, Solaria dan dilengkapi juga dengan Bread Talk dan Jaco. Hey, bahkan sekarang sudah ada bioskop XXI di sini.

Tapi, entah kenapa saya merasa bukan ini yang mestinya ditonjolkan dalam menggambarkan Kota Padang. Semua restoran yang saya sebut di atas bisa ditemukan di kota-kota lain. Tapi di mana bisa ditemukan martabak mesir Kubang Hayuda yang paling enak sedunia atau es durian Pondok yang menyegarkan atau street food yang bisa ditemukan di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan di daerah Jati (yang merupakan daerah rumah kos Aisha sebelum ia menikah), selain di Kota Padang ini?

Tapi, mungkin pengarang memang memiliki cara pandang yang berbeda dengan saya mengenai Kota Padang ini :)

Dari segi cerita saya merasa buku ini agak berat sebelah. Walau menggunakan sudut padang orang ketiga, tetapi lebih fokus kepada pemikiran dan tindakan Aisha sehingga tidak memberikan ruang kepada tokoh-tokoh lainnya untuk berkembang. Contohnya saja Axel. Dari awal hingga 2/3 cerita ia lebih terasa seperti pemeran figuran daripada tokoh utama pria. Adegan yang perlu diperankannya hanya pulang ke rumah, mengacuhkan Aisha dan kemudian bertapa di kamarnya. Malah rasanya Jimmy, salah satu sahabat Axel, memiliki porsi lebih banyak di buku ini daripada Axel.

Setelah 75% cerita lewat, barulah Axel mulai unjuk gigi. Sudah terlambat menurut saya, tapi beberapa scene-nya cukup mengigit. Saya suka adegan saat Axel merapat ke Aisha saat istrinya itu sedang menyiram bunga. Saya dalam hati sampe teriak. It's about damn time!

Sedangkan Aisha, ada beberapa hal yang saya sukai dari karakternya. Dan ada beberapa hal juga yang tidak saya sukai.

Yang saya sukai dari Aisha adalah kemandirian dan optimisme-nya. Ia cukup logis dengan meminta haknya untuk dibiayai sebagai seorang istri dalam perjanjiannya dengan Axel. Dalam perjanjian mereka Aisha lah yang akan mendapatkan kerugian yang lebih besar daripada Axel. Terutama dengan gelar janda yang akan disandangnya bila ia akhirnya jadi bercerai dengan Axel.

Dan yang paling saya sukai adalah inisiatifnya agar bisa membuat Axel jatuh cinta kepadanya. Toh, ia memang mencintai Axel. Cara yang digunakanya juga cukup unik. Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk mengambil hati lelaki itu adalah melalui perutnya. Dan Aisha mengamalkan pepatah tersebut dengan kreatif. Salah satunya adalah dengan memasak makanan-makanan yang mengandung zat afrodisiak untuk memancing suaminya. Nggak heran kalau akhirnya Axel tumbang juga. Hahaha...

Yang kurang saya sukai dari karakter Aisha adalah pemikiran-pemikirannya tentang Amelie. Secara garis besar saya bisa menyimpulkan bahwa Aisha menganggap dirinya lebih tinggi dari Amelie. Aisha bisa memasak, penulis yang pernah memenangkan lomba untuk artikel yang ditulisnya, cukup ahli di bidang fotografi, dan lulus kuliah dengan predikat cum laude. Siapalah Amelie, yang hanya mengikat Axel dengan cinta dan kemanjaan, kalau dibandingkan dengan Aisha?

Setiap kali Aisha berpikir tentang mudahnya hidup Amelie yang bekerja di toko perabot orang tuanya yang membosankan, yang tidak punya skill untuk menjalani pernikahan, setiap kali itu pula nilai Aisha menurun di mata saya.

Sedangkan untuk Amelie, saya nggak bisa membentuk opini tentang dirinya. Karena di sini Amelie hanya sekedar nama. Saya hanya tahu tentang Amelie dari pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh lain. Kebanyakan mengatakan kalau Amelie tidak sesuai dengan Axel, terlalu mengatur Axel dan lain sebagainya. Yang saya pikirkan cuma satu, mana buktinya?

Malah jujur saja, saya merasa kasihan pada Amelie. Enam tahun menjalin kasih dengan lelaki yang dicintai dan kandas begitu saja. Tanpa ada kesalahan dari pihaknya.

Secara keseluruhan buku ini lumayan enak dibaca walaupun saya mengharapkan lebih banyak interaksi antara kedua tokoh utama, Axel dan Aisha. Dengan begitu saya bisa melihat perkembangan hubungan mereka dari yang awalnya asing hingga akhirnya jatuh cinta.

Tetap semangat, kakak penulis :)

No comments:

Post a Comment