Saturday, October 26, 2019

[Book to Drama] Nightfall (Ever Night) - Mao Ni Bagian 2 : The Drama





Judul                     : Ever Night Season 1
Judul Asli              : Jiang Ye
Pengarang            : Mao Ni
Tahun                    : 2018
Episode                 : 60
Pemain                 : Chen Feiyu, Song Yiren, Adam Cheng, Dylan Kuo, dll
Rating                  : 4 of 5 stars




Chang An, capital of Tang, the most powerful empire in the continent. A heaven wrecking massacre shook the city to its core. Amidst the incident, a young boy named Ning Que managed to get away, dug out from a pile of corpses along with a little girl called Sang Sang. Years passed, and since that day the two of them lived together. Together with Sang Sang they both entered the military, with plausible military achievements, they were rec ommended into the Scholar School, which began their miraculous journey.

Who is this boy and what does his future hold?

The epic and legendary tale of an extraordinary young man rising up from the masses, traversing his life in the pursuit of quantity over quality. His inquisitive voice echoes infinitely through the hills of the immortal Academy: “I am one who would rather suffer an eternity of destined calamities than beg for solace from the saints…”




Nah, sekarang ngobrol dikit tentang dramanya. Saya tidak akan terlalu membahas jalan ceritanya, karena hampir sesuai dengan isi buku (baca: Review buku Nightfall/Ever Night). Di postingan ini saya hanya akan membahas tentang kesan saya akan drama ini dan tentang tokoh-tokohnya.

Saya lebih dulu menonton dramanya yang berjudul Ever Night baru kemudian membaca novelnya. Jalan cerita antara drama dan novel hampir sama, tidak banyak melenceng. Dari komen-komen yang saya baca mengenai dramanya, banyak yang kurang setuju dengan hubungan Ning Que dan SangSang. Mereka merasa hubungan kedua orang ini lebih sebagai kakak dan adik daripada sepasang kekasih. Well, kalau dipihak saya sih dari membaca sinopsis drama dan bukunya saja saya sudah bisa menebak kemana hubungan kedua  orang ini akan mengarah.
Tetapi saya juga ngerti juga sih, komplain orang-orang yang tidak setuju ini. Diawal episode memang hubungan keduanya lebih mirip bersaudara, apalagi dengan postur Sangsang yang mungil dan Ning Que yang tinggi. Malah kadang kalo lagi di-shot dari belakang kelihatan seperti ayah dan anak. Hahaha…



Tetapi setelah mereka pindah ke Chang’an terasa perubahan hubungan keduanya. Sangsang juga mulai didandani lebih dewasa dibandingkan saat awal dimana ia lebih terlihat seperti anak kecil berumur 12 tahun.

Ning Que diperankan oleh Chen Feiyu yang bisa memainkan karakter Ning Que dengan baik. Senyum nakal, sikap asal-asalan dan emosional Ning Que tersampaikan dengan baik. Hanya saja saat melakukan adegan sedih emang agak kurang terasa. Untuk season dua drama ini, pemeran Ning Que bukan lagi Chen Feiyu, melainkan Dylan Wang. Saya harap aktor yang satu ini bisa memerankan Ning Que sebaik (atau lebih baik) dari pada Chen Feiyu. Apalagi sikap nakal dan ugal-ugalan Ning Que yang bisa diperankan Arthur Chen dengan baik.

Sementara SangSang diperankan oleh Song Yiren. Dibandingkan di buku, SangSang yang ditampilkan di drama lebih menarik. Song Yiren Berhasil memerankan SangSang yang pendiam saat diluar rumah, dan tidak berhenti bergerak saat didalam rumah. Menonton SangSang yang selalu bergerak dan penuh kesibukan dirumahnya benar-benar membuat saya ikutan lelah. Padahal cuma nonton sambil baringan. Hahaha…



Drama sepanjang 60 episode ini hanya sanggup merangkum sepertiga lebih dari buku. Saya jadi curiga kalau drama ini bahkan bisa mencapai season tiga. Bagaimana tidak, masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Perjalanan (pelarian) panjang Sangsang dan Ning Que, perang suci untuk membunuh Anak Yama, perang antar kerajaan saat dimana Akademi dianggap sudah jatuh dan kemudian perjuangan Ning Que memperoleh SangSang kembali. Belum lagi ditambah epilogue-epilogue yang tidak sedikit.

Tapi biarlah… mau dua season atau tiga season, selama ending drama selaras dengan ending buku saya ga bakalan komplain. Kalau endingnya beda, nah disini saya bakal ngamuk. Hahaha…

Dari segi sinematografi film ini digarap dengan indah. Pertarungan dan pertempurannya juga tidak kalah ciamik. Bahkan untuk special effecknya drama ini menggunakan jasa ahli dari Hollywood yang sudah pernah beberapa kali menjadi nominator Oscar. Nah, gimana nggak keren drama ini kan?

Naskah yang digarap selama dua tahun ini juga tidak terlalu melenceng dari novelnya, tidak terlalu banyak penambahan-penambahan cerita. Jadi tidak banyak yang bisa dikeluhkan dari drama ini.

Selain Ning Que dan SangSang, tokoh-tokoh pendukung lain juga berperan dengan baik. Beberapa sudah pernah saya tonton aktingnya di drama lain, beberapa lagi belum. Malah Mo shanshan (ga tau nama artisnya) bermain sebagai tokoh utama Shu Jing Rong di Listening Snow Tower, yang saya tonton tepat setelah menonton drama Ever Night ini. Tetapi saya, yang emang susah ngapal wajah ini, malah ga nyadar. Cuma pas nonton ada perasaan nggak enak ngeliat si Jing Rong ini. Setelah berbelas-belas episode saya baru nyadar ternyata peran Shu Jing Rong dan Mo Shanshan ini dimainkan oleh orang yang sama. Pantesan bawaan saya nggak sreg aja nonton dia di Listening Snow Tower ini. Hahaha…

Satu lagi tokoh yang bikin saya curigaan terus di drama ini adalah Permaisuri Xia Tian. Kenapa? Karena dia juga yang memerankan Sheng Molan di drama Story of Minglan! Yang udah nonton Story of Minglan pasti tau betapa manipulatifnya Molan dan ibunya. Padahal karakter yang diperankannya di drama ini adalah sebagai orang baik, tapi saya aja yang terus ga percaya. Setiap dia muncul saya terus menunggu dia berkhianat ^^;


Kepala Akademi dan kakak-kakak seperguruan Ning Que

Para murid dari bukit belakang Akademi juga sangat menarik. Sebagai murid Fu Zi mereka sangat kompak dan sangat mempercayai guru mereka. Kepala Akademi tidak pernah salah. Secara tampilan luar mereka terlihat sebagai orang-orang yang tenang (kecuali Ning Que) tetapi pada dasarnya mereka memiliki sikap keras kepala yang sama. Bahkan Tuan Kedua Jun Mo yang begitu disiplin dan mengikuti logika kadang mengeluarkan kata-kata yang sama shameless-nya dengan Ning Que!

Ngomong-ngomong soal Tuan Kedua, saat pertama muncul saya cukup tersedak dengan penampilan….topinya! Karena topinya kayak pencakar langit di kepala Tuan Kedua. Setelah membaca bukunya saya jadi tahu kalau prinsip Tuan Kedua mengenai topi sakralnya ini adalah: “Kepala boleh bercerai dengan tubuh, tapi topi keramatnya tidak akan terlepas dari kepala!”


Hahaha…

Pada awalnya saya kurang suka dengan Tuan Pertama Li Manman, karena ia tidak mendukung hubungan antara Ning Que dan Sangsang. Malah Tuan Pertama mendukung Mo Shanshan dan mengangkat gadis tersebut sebagai adiknya. Dari buku kemudian saya tahu bahwa ada alasan kuat mengapa Tuan Pertama berusaha memisahkan Ning Que dan Sangsang. Ketika Ning Que bertanya kepada kakak seperguruannya itu kenapa mau menolong ia dan Sangsang, jawaban Tuan pertama membuat ia menjadi sangat keren di mata saya.

Because I’m your Eldest Brother.



Tapi kayaknya di drama belum sampe ke adegan ini. Hehehe… Tunggu season 2 yaaaa…

Dari segi ilmu, Tuan Pertama inilah yang sepertinya bakal mewarisi kebijakan dan kelihaian Kepala Akademi.

Tuan Kedua belas Chen Pipi juga merupakan karakter yang cukup menarik. Ia selalu kalah dalam bersilat lidah dengan Ning Que, dan juga kalah dalam permainan Qi melawan Sangsang. Padahal Chen Pipi membanggakan dirinya sebagai yang paling jenius dari ketiga belas murid belakang bukit Akademi. Walaupun begitu dari semua murid Fu Zi, ia yang paling dekat dengan Ning Que dan pendukung setia hubungan Ning Que dan Sangsang. Chen Pipi di drama jauh lebih imut dan menggemaskan daripada yang di buku :)

Tokoh yang membuat saya paling sebal di drama ini adalah Long Qing. Pangeran kedua dari kerajaan Yan ini menasbihkan dirinya sebagai Putra Cahaya yang memiliki kultivasi tinggi dan akan segera memasuki tingkatan Mengetahui Takdir. Oleh karena itu ia selalu heran kenapa Ning Que yang memiliki kultivasi rendah dengan tingkatan rendah bisa mengalahkannya lagi dan lagi dan lagi. Long Qing menganggap dirinya suci dan murni, tapi sikap suci dan murni-nya malah menonjolkan kesombongan dan tinggi hati Long Qing. Ia memiliki kepercayaan yang kuat kepada Haotian, tetapi ketika mendapatkan cobaan ia malah dengan mudah melepaskan kepercayaannya ini. Di drama dan buku ia memang ditampilkan sebagai seorang pecundang.



Tokoh lain yang menarik perhatian saya di drama ini adalah Chao Xiaoshu dari Paviluin Angin Musim Semi. Tokoh ini emang nggak banyak keluar, hanya di episode-episode awal dan sedikit dibelakang. Tapi saya suka sikapnya yang cuek berjalan sambil memeluk pedang tapi juga perhatian pada Ning Que. Adegan perkelahiannya bersama Ning Que sangat keren. Dan yang membuat saya penasaran adalah kisah Chao Xiaoshu dibagian akhir drama. Saking penasarannya, saat mulai membaca bukunya saya malah membaca semua bagian tentang Chao Xiaoshu terlebih dahulu sebelum mulai membaca buku ini dari awal :)

Saya berharap season kedua drama ini bisa sebaik season pertamanya.


notes: all pictures  were taken from dramalist

No comments:

Post a Comment