Thursday, December 12, 2013

TBRR & Mistery Book's Club Reading Challenge 2014

Dua lagi reading challenge yang akan saya ikuti ditahun 2014. Keduanya diselenggarakan oleh Mbak Maria Hobby Buku, yaitu TBRR Pile Reading Challenge dan Mistery Book’s Club Reading Challenge. Berikut penjelasan buat kedua reading challenge ini :

1.      TBRR Reading Challenge

HOBBYBUKUSHELF

Punya penyakit suka numpuk buku? Hmm... kalo ngaku kutu buku, penyakit yang satu ini emang ga bisa dihindari lagi. Jumlah buku yang masuk ga sebanding dengan jumlah buku yang keluar alias dibaca. Kalo sebulan bisanya cuma baca 5 buku, buku yang dibeli bisa sampe 10-15 biji. Nah, yang beginian kapan bisa selesai bacanya dong?

Karena tahu penyakit para penimbun buku ini, Mbak Maria dengan baik hati berusaha membantu kita menghabiskan tumpukan timbunan ini. syarat-syarat untuk bisa mengikuti challenge ini bisa dilihat di blog Mbak Maria yang ini.

Untuk challenge ini ada beberapa tumpukan buku yang hendak saya bereskan, yaitu :

  • The Priestess of White – Trudy Canavan 
  •  Last of the Wilds – Trudy Canavan 
  • Voice of the Gods – Trudy Canavan (ketiganya merupakan trilogi yang saya beli pertengahan tahun 2013 ini) 
  •  Pillars of the earth – Ken Follet 
  •  World without End – Ken Follet (dapet swap dari Ndari) 
  •  The Hero’s Guide to Saving Your Kingdom – Cristopher Healy (sempat susah nyari ini dan mahal pula, untung di opentrolley nemu yang paperback-nya). 
  • Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran – Mark Haddon 
  •  Inheritance – Cristopher Paolini 
  •  Matched – Ally Condie 
  •  If I Stay – Gayle Forman
Sebenernya rak to read saya di goodreads ada sekitar 300an judul, tapi ga semua saya punya. Jadi listnya saya bikin segini dulu. Masih ada setumpuk lagi yang belum saya update ke goodreads, hasil diskonan minggu lalu. Hehehehe...

Semoga tahun ini saya berhasil menumpas sebagian besar timbunan saya. Terimakasih banyak buat Mbak Maria yang mengerti banget tentang penyakit para penimbun buku ini dan memberi solusi untuk mengatasinya :)

2.      Mistery Book’s Club Reading Challenge


Nah, novel-novel mysteri merupakan salah satu genre favorit saya. Koleksi novel misteri saya lumayan banyak, terutama karya James Patterson. Walaupun saya ngaku belum pernah baca Sherlock. Hehehehe...

Untungnya di tahun 2014 Mbak Maria mengadakan Mistery Book’s Club Reading Challenge yang mengajak para pengikutnya untuk membaca novel-novel mistery.  Untuk mengetahui syarat-syarat mengikuti reading challenge ini dapat kunjungi blog Mbak  Maria yang ini.

Dan uniknya di setiap bulan di buat khusus untuk satu pengarang sehingga bacaan bisa makin terarah. Berikut rincian jadwal RC ini :

  •  Januari                 : Mary Russel & Sherlock Holmes karya Laurie R. King 
  •  Februari               : Kisah-kisah misteri Charles Dickens 
  •  Maret                   : Novel-Novel John Grisham 
  •  Mei                       : Sherlock Holmes karya Sir Arthurn Conan Doyle 
  •  Juli                        : Seri Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock 
  •  Agustus                : Novel-novel J.D. Robb 
  •  September          : Novel-novel Jeffery Deaver
Dari daftar pengarang diatas sebagian sudah saya baca kecuali buku-buku Laurie R. King dan Sir Arthur Conan Doyle. Walau suka filmnya tapi saya tidak terlalu  minat baca bukunya, semoga setelah challenge ini selesai saya bisa bergabung dengan para sherlockian. Hehehehe...

Okeeehhh.. jadi untuk tahun 2014 udah ada 3 challenge yang bakal saya ikuti, dan sepertinya bakal nambah lagi. Makin banyak ikut challenge makin banyak bikin review! (mungkin...)

Monday, December 9, 2013

Tentang Review & Saya

gambar ambil (disini)


Mereview buku yang sudah saya baca merupakan salah satu hobi saya. Walaupun hanya sekian persen dari buku yang dibaca yang saya review, tapi bisa menghasilkan sebuah postingan mengenai buku yang telah saya baca sangat memuaskan saya.

Bahkan mungkin lebih puas dari membaca buku itu sendiri.

Kadang saya sering merasa kesulitan mengungkapkan perasaan saya terhadap sebuah buku. Padahal sewaktu membaca buku-buku tersebut banyak hal yang muncul dikepala yang ingin saya sampaikan dalam review, tetapi sebagian besar menghilang saat saya selesai membacanya.

Makanya, untuk bisa menghasilkan review satu buku bisa membutuhkan waktu berjam-jam bagi saya. Rata-rata waktu yang saya butuhkan untuk mereview satu buku adalah 3 jam (paling banyak dihasilkan hanya dua halaman word). Itu belum termasuk membuat review yang putus sambung, bisa berhari-hari!

Saya lumayan rajin mencari-cari info mengenai cara mereview yang baik dan benar. Sering juga mengunjungi blog-blog yang membahas trik-trik mereview. Beberapa memiliki kesamaan dan juga ada yang kadang saya pertanyakan.

Dan setiap kali mencoba untuk mempraktekkan, saya selalu menghasilkan review yang sama. Review yang sangat mengandalkan perasaan saya.

Apakah review saya ini salah?

Saya memang tidak bicara banyak tentang plot, atau kelemahan dan kekuatan karakter atau diksi atau kurangnya deskripsi atau anehnya narasi.

Kebanyakan saya menuliskan apa yang saya sukai dan tidak sukai dari buku yang saya baca. Dan biasanya saya menjelaskan alasan saya menyukainya ataupun tidak. Biasanya sih saya nulis kayak gini “saya suka si A karena dia hot abis!”

Dan bagi saya itu berarti si penulis udah berhasil menyuguhkan karakter yang believable dengan karakter yang sesuai bagi ceritanya.

Sering juga saya menuliskan “saya suka jalan ceritanya, walaupun udah sering membaca buku dengan tema ini.” Untuk saya ini malah menunjukkan si penulis pinter banget karena walaupun udah banyak yang menulis buku dengan tema yang sama tapi dia tetap bisa membuat saya menyukai tulisannya.
cover versi asli
cover versi Indonesia

Cover adalah salah satu hal yang jarang saya bahas. Biasanya cover yang cantik banget atau malah aneh banget yang saya komentari. Dan bahasannya juga ga panjang-panjang amat. “Covernya minta ampun deh, kok ga sesuai isinya?” atau “Astaga! Ini cover luar biasa banget, terasa sangat real dan sesuai dengan yang yang dijelaskan di dalam buku.”

Dan cover juga salah satu yang bikin saya pengen membeli sebuah buku, ga peduli apa sinopsis yang ada dibelakangnya. Jadi ketika beberapa waktu yang lalu saya pernah baca (entah dimana) ada yang berkata “kalau mereview itu, jangan review covernya tapi review isinya saj. Cover kan diluar kuasa penulis..” (kira-kira seperti itu yang saya tangkap) saya jadi mikir “lho, emang yang saya beli itu tulisan doang? Emang design cover ga termasuk dalam rincian biaya yang saya keluarkan? Bukankah isi dan cover adalah paket yang saya beli?”

Kecuali mungkin kalau saya membaca buku-buku retur yang covernya di robek itu (emang ada ya? ingetnya cuma majalah).

Terus juga, kalau prinsipnya seperti itu bagaimana dengan terjemahan? Bagi saya terjemahan itu penting. Hal pertama yang saya lihat saat membaca buku terjemahan adalah halaman yang berisi keterangan buku. Kalau saya melihat penerjemah yang sudah biasa saya baca dan suka dengan hasil terjemahannya, saya bisa membaca dengan santai dan tidak was-was. Toh, saya udah tahu hasil kerja si penerjemah.

Beda kalau penerjemah yang saya lihat bukan yang saya kenal, dijamin saya bakalan memulai buku tersebut dengan kecurigaan. Mendapatkan buku yang penuh dengan terjemahan tidak mengenakkan sudah sering saya alami. Contohnya terjemahan harlequin tahun 2001-2003. Saya berhenti membeli harlequin karena masalah terjemahan tersebut.

Untungnya sekarang hal itu sudah diperbaiki penerbit, tetapi saya udah kapok dan terlanjur jatuh cinta ama historical romance, jadinya tetep ga beli. Hehehehe...

Nah, kalau saya menilai sebuah buku jelek karena terjemahannya, salahkah saya? Padahal kalau dilihat di goodreads ratingnya bisa 4,5 bintang. Dan mungkin kalau dibaca buku aslinya ternyata emang bagus. Tapi bagaimana kalau saya tidak membaca buku aslinya, kalau saya hanya bisa membaca yang terjemahan? Sampaikah pesan penulis kepada saya? Menurut saya tidak, bagaimana bisa sampai kalau saya membaca sambil mencak-mencak. Dan hal ini jelas berada diluar kuasa penulis.

Jadi tidak bolehkah saya membuat review yang mengungkapkan kekecewaan saya terhadap buku ini karena faktor yang ada diluar kuasa penulis?

Sejauh ini saya berusaha mereview buku dengan bahasa yang sopan, dan mungkin sedikit datar. Kecuali kalau saya udah  kecewa bener ama buku tersebut. Biasanya di buku-buku ini saya mereview dengan bahasa yang sedikit judes, sedikit mengejek tapi jelas ga mengumpat. Bagi saya dikecewakan itu jauh lebih menyakitkan daripada dibikin marah.

Mereview buku adalah salah satu cara bagi saya mengingat hal-hal yang saya sukai/tidak sukai dari sebuah buku. Dengan banyaknya buku yang saya baca sangat besar kemungkinan saya lupa apakah sebuah buku itu pernah saya baca atau tidak. Walaupun biasanya saya ingat sih.

Baru beberapa hari yang lalu kejadian saat saya membaca sinopsis sebuah buku dan merasa tertarik untuk membacanya. Waktu saya cek di goodreads ternyata udah ada label bintang 3 yang saya sematkan di buku tersebut, lengkap dengan review singkat dan beberapa komen dari teman-teman disana. Yang anehnya saya sama sekali ga ingat pernah membaca buku ini!

Apa ada yang mengambil alih akun goodreads saya ya? hehehe...

Tapi setelah membaca bab awal buku ini, saya ingat lagi kalau emang pernah membacanya. Nah, inilah guna review di blog ini bagi saya. Yang paling utama adalah bagi diri saya sendiri. Kalau misalnya sesudah saya membuat review ada yang tertarik untuk membaca novel ini atau merasa terbantu dalam memutuskan untuk membeli atau tidak, saya senang sekali. Tapi bagi saya itu hanya kesenangan sampingan saja.

Saya baru menerapkan kaidah-kaidah mereview yang baik dan benar itu apabila mereview untuk penerbit. Bagi saya buku-buku ini adalah hutang dan harus segera diselesaikan. Walaupun saya menikmati membaca bukunya, tapi tidak menikmati membuat reviewnya. Saya tidak lepas...

Bagi saya review berdasarkan perasaan saya adalah yang terbaik. Jadi kalau ada yang bilang review saya ga valid, ga bisa dibilang review beneran yah saya cuma bisa angkat bahu saja.

Saya ga bisa memaksa orang menyukai review saya sama seperti penulis tidak bisa memaksa saya menyukai buku mereka.

Wednesday, December 4, 2013

Theodore Boone : The Lawyer Kid (Theodore Boone #1) by John Grisham





Judul                     : Theodore Boone:The Kid Lawyer (Pengacara Cilik)
Pengarang           : John Grisham
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                     : 9789792262
Tahun Terbit        : 2010
Halaman              : 272
Rating                 : 3 of 5 stars

Kedua orangtua Theodore Boone adalah pengacara. Ayahnya pengacara real estate sedangkan ibunya pengacara perceraian. Karena menderita asma, Theo tidak bisa aktif di bidang olahraga. Tapi kekurangan itu ditutupinya dengan menjadi ketua tim debat, dan kadang-kadang membuka praktek hukum untuk teman-temannya di sekolah.

Sementara kebanyakan teman-teman bermain di waktu luang mereka, Theo menghabiskan hari-harinya di kantor hukum Boone & Boone milik orangtuanya, ataupun menghadiri persidangan di pengadilan. Terutama di ruang pengadilan Hakim Henry Gantry. Kalau tidak sedang berkhayal menjadi pengacara yang hebat, Theodore juga membayangkan dirinya menjadi hakim seperti Hakim Gantry yang tegas dan bijaksana.

Dan kali ini Hakim Gantry mendapat kasus panas, yaitu pembunuhan istri seorang konglomerat di kota mereka. Tersangka adalah suami perempuan itu sendiri yaitu Mr. Duffy. Tetapi pada saat pembunuhan terjadi Mr. Duffy sedang ada di lapangan golf.

Banyak orang yang percaya Mr. Duffy bersalah, tetapi kurangnya bukti membuat kesempatan Mr. Duffy  untuk bebas semakin besar.

Di sekolah Theo dihampiri oleh seorang temannya yang ingin berkonsultasi hukum kepadanya. Ia percaya bahwa ada saksi yang melihat Mr. Duffy kembali ke rumah pada jam pembunuhan terjadi, tetapi takut untuk maju kedepan karena status imigrannya. Dan temannya tersebut meminta Theo untuk bersumpah agar tidak mengatakan apa-apa ke siapapun juga. Hukum kerahasiaan antara pengacara dan kliennya harus dipegang teguh.


Pada saat membeli buku ini saya sedikit berharap bahwa kisahnya akan se-intens The Client yang tokoh utamanya juga seorang anak remaja seperti Theo. Tetapi sampai selesai saya baca, kisah dan ketegangannya ternyata biasa-biasa saja. Saya jadi sedikit kecewa.

Setelah mengecek goodreads, saya baru menyadari bahwa buku ini merupakan buku pertama seri Theodore Boone, si anak pengacara dan memang pembaca yang ditargetkannya adalah anak-anak sampai remaja. Saya langsung merasa lega karena tadinya sempat berpikir kalau kemampuan menulis John Grisham sudah menurun. Karena ini buku berseri maka kesempatan untuk memperdalam karakter tokoh bisa kita ditemukan di buku-buku selanjutnya.

Dan sebagai buku yang ditujukan untuk anak dan remaja, buku ini sangat kaya informasi mengenai sistem hukum di Amerika. Menurut saya akan banyak anak-anak yang merubah cita-citanya untuk menjadi pengacara setelah  membaca buku ini.

Walaupun lumayan sarat dengan istilah hukum, tapi penjelasannya dibawakan dengan bahasa  yang sederhana dan ringan sehingga mudah dimengerti. Dan juga tidak ketinggalan dengan petualangan Theodore dalam menyingkap kasus pembunuhan membuat buku ini semakin memenuhi syarat sebagai buku remaja.