Monday, April 28, 2014

[BLOG TOUR + GA] Cheer Boy!! - Asai Ryo


Judul                     : Cheer Boy!!
Pengarang            : Asai Ryo
Penerbit                 : Haru
Tahun                    : 2013
ISBN                     : 978-602-7742-26-0
Hal                         : 424


Sinopsis

 “Cheerleader.. Biasanya cewek yang melakukannya, kan?”

Haruki cedera. Cowok itu menggunakan cederanya sebagai alasan untuk berhenti dari Judo karena menyadari batas kemampuannya. Padahal Haruki lahir dalam keluarga Pejudo dan kakak perempuannya selalu jadi pemenang dalam setiap kejuaraan Judo.

Kazuma, teman sepermainan Haruki tiba-tiba ikut berhenti Judo dan menyarankan hal yang gila. Mereka akan membentuk tim cheerleading cowok!! Padahal olah raga itu kan oleh raga cewek!

Tapi, saat anggota berhasil mereka kumpulkan, ternyata mereka adalah cowok-cowok dengan masalah masing-masing.
Saat masalah itu saling berbenturan, akankah cheerleading bisa membuat mereka tetap bersatu? Akankan cheerleading bisa menyelesaikan semua masalah?


Halooo...

Selamat datang di BLOG TOUR CHEER BOY!! yang diadakan oleh penerbit Haru bekerjasama dengan beberapa blogger buku. Untuk kesempatan pertama ini, giliran saya yang menjadi host Blog Tour Cheer Boy!! dari tanggal 28 April sampai 4 Mei 2014. Kemudian Blog Tour ini akan berpindah ke blog berikutnya, ibarat olah raga lari estafet :)

Rasanya kurang seru ya ada blog tour tanpa hadiah... Kali ini juga blog tour ini akan mengadakan Giveaway yang di sponsori oleh Penerbit Haru dengan hadiah berupa Bundel Paket Buku untuk 2 (DUA) orang pemenang!

Nah, sebelum syarat Giveaway saya bocorkan, silakan baca review berikut ini ya :)

Review

Haruki sangat mengagumi kakaknya, Haruko. Haruko yang sangat ahli dalam judo merupakan idolanya. Tetapi dengan memandang Haruko, Haruki jadi menyadari keterbatasannya sendiri. Ia tidak sehebat Haruko. Dan ketika Haruki mengalami cedera bahu, ia merasakan bahwa mungkin judo bukanlah untuknya.

Kazuma adalah sahabat Haruki sejak kecil. Orangtua Kazuma telah meninggal dan ia diasuh oleh neneknya. Ibu Kazuma dulunya adalah seorang cheerleder dan ayahnya adalah pelatihnya. Melihat sinar di mata neneknya yang sedang sakit saat melihat seorang cheerleader di TV, Kazuma-pun kemudian membuat rencana.

Karena sangat mengenal Haruki, Kazuma kemudian menarik Haruki yang telah mengundurkan diri dari Judo untuk bergabung dengannya membentuk tim cheerleader. Awalnya Haruki ragu, tapi ia bisa mengingat kesenangan dan semangat saat ia mendukung pertandingan Haruko.

Dengan berbekal selebaran kuning, keduanya mencari anggota untuk grup mereka. Dan ketika akhirnya terkumpul tujuh orang, ketujuhnya merupakan individu-individu berbeda dengan rahasia dan permasalahan mereka sendiri.

Tema yang diangkat oleh buku Cheer Boy cukup unik dan menarik. Olah raga dan persahabatan. Dan semua tokohnya adalah cowok. Apalagi olah raga yang ditekuni para cowok ini adalah cheerleading atau pemandu sorak, yang biasanya di asosiasikan dengan dunia cewek.

Dan memang, saat mereka mendirikan grup ini, banyak juga cemoohan yang mereka terima. Tapi berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah, Kazuma dan teman-temannya berhasil memikat para penonton yang melihat pertunjukan perdana mereka. Ujung-ujungnya, anggota klub mereka bertambah!

Seperti yang sudah umum kita ketahui, saat beberapa orang berkumpul sifat masing-masing orang akan saling beradu. Begitu juga dengan para anggota tim Cheerleader Kazumi yang mereka namakan BREAKERS.

Ada Ichiro dari Kansai yang memiliki bakat alami dalam olahraga. Ia tidak mengerti bagaimana seseorang tetap sulit melakukan sesuatu walaupun sudah berusaha.

Lalu Ton, dengan tubuh gendut dan rasa percaya diri yang rendah. Setiap kali Ichiro berkata “Kalau aku bisa, kau juga pasti bisa,” perkataan “maaf” selalu meluncur dari mulutnya.

Dan Gen, yang sangat memahami perasaan Ton, karena ia juga selalu berusaha mengejar punggung Ichiro yang selalu berjalan didepannya. Bahkan Gen sempat putus asa, dan memutuskan mengikuti olah raga yang berbeda dari Ichiro agar tidak selalu ketinggalan.

Mizoguchi, anak pemilik restoran Jepang, dengan otak yang pintar dan mulut yang tajam. Ia tidak punya banyak teman, dan mengambil langkah memasuki dunia cheerleading untuk bisa mendapatkan teman.

Kemudian Sho, cowok tampan dengan dandanan aneh ini memiliki teknik-teknik cherleading yang mantap. Tapi kenapa ia keberatan kembali kedunia cheerleading?

 
Apa sih yang bisa didapat dari membaca Cheer Boy?  Membaca buku ini kita diajak untuk mengerti bahwa setiap individu itu berbeda. Tetapi bukan berarti mereka tidak bisa saling berteman, membantu dan menghargai. Pantang menyerah dalam melakukan sesuatu dan saling terbuka sehingga tidak ada perasaan kesal yang terpendam merupakan pelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini.

Dan karena olah raga ini merupakan olah raga kelompok yang saling mendukung satu sama lain, rasa saling mempercayai sangatlah dibutuhkan. Bagaimana bisa saling mempercayai kalau tidak saling terbuka? Ini merupakan salah satu topik penting yang dibahas dibuku ini.
Base bukanlah posisi bagi orang yang takut menjatuhkan top, melainkan bagi mereka yang senang karena bisa membopong temannya..”
Menurut saya, buku ini sangat bermanfaat dibaca oleh semua kalangan. Terutama para remaja. Dengan emosi mereka yang masil labil, berolahraga dapat membantu mereka dalam mengatasi ‘kegalauan’ dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan begitu energi mereka yang berlebih dan hormon-hormon yang masih belum stabil dapat disalurkan dalam olah raga.

Apalagi dalam kehidupan modern saat ini, dimana para remaja kita lebih banyak ‘berolah raga’ dalam dunia maya daripada di dunia nyata. Akibatnya? Penipuan melalui sosial media sering menimpa para remaja, atau kelompok-kelompok bully yang bermunculan, karena tidak ada hal-hal positif tempat mereka menyalurkan emosi mereka. Seperti yang disebut dalam sebuah ungkapan “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”.

Maka... berolah raga-lah! :)

Nah, kembali ke Giveaway...

Bundel buku yang dihadiahkan oleh Penerbit Haru berisi dua buah buku, yaitu :


Cara mendapatkannya :

1. Jawab pertanyaan saya yang berikut ini dibagian komen :

Jepang cukup terkenal dengan program ekstra-kurikuler-nya yang berupa olahraga. Contohnya seperti Koshien yang merupakan salah satu pertandingan olahraga nasional antar SMU yang menjadi ajang pencarian bibit atlet untuk major league. Nah, menurutmu bagaimana dengan di negara kita? Sudah cukupkan sekolah/universitas di negara kita mendukung program olah raga seperti di Jepang?
2. Share Blog Tour Cheer Boy!! dan giveaway ini melalui twitter atau FB kamu ya. Mention ke penerbit Haru (@penerbitharu) dan masukkan link share dan alamat email kamu di bagian bawah jawaban.

Pengumuman pemenang akan diposting pada tanggal 5 Mei 2104, dan blog tour beserta giveaway-nya ini akan berpindah ke blog berikutnya.

Jadi pantengin terus Blog Tour Cheer Boy!! ini ya :)


Update 1/5/2014

Hot News!

Ada tambahan  KUIS FINALE dari Penerbit Haru, dan hadiahnya... 1 PAKET BUKU dari PENERBIT HARU!
Jadi, selain hadiah diatas, bakal ada satu hadiah tambahan lagi. Senang kaaaann... :)

Mau tau caranya?

Coba lihat gambar dibawah ini.

Waktunya habis!


Huruf pada gambar ini merupakan bagian dari sebuah KATA yang mesti kamu tebak untuk mendapatkan hadiah FINALE ini. Huruf-huruf lainnya akan kamu temukan di blog-blog yang mengadakan blog tour Cheer Boy selanjutnya. Nah, siapa yang bisa menebak kata ini bakal mendapatkan hadiah paket buku tambahan dari Penerbit Haru.

Gimana kalau banyak yang bisa menebak? Ya diundi-lah. hehehehehe....

Huruf selanjutnya bakal kamu temukan di blognya Atria tanggal 5 Mei Nanti.

Jadi, selamat menikmati Blog Tour Cheer Boy :)


Update 05/05/14

Pemenang giveaway Blog Tour Cheer Boy ini dapat dilihat disini.

39 comments:

  1. menurut saya negara kita belum cukup untuk mendukung olahraga baseball karena dilihat dari belum banyaknya atlet bisbol yang memajukan negara indonesia dan kurangnya marak informasi kegiatan PERBASASI. Seharusnya setiap sekolah diadakan klub ekstrakurikuler tentang baseball, dan acara-acara yang dapat menumbuhkan minat kepada baseball.

    ReplyDelete
  2. Menurutku, olahrga baseball hampir samasekali tidak tersentuh, beberapa sekolah yang saya temui tahu belum ada yang mengadakan ekstrakulikuler tersebut. Sebenarnya ada banyak faktor sih, yang paling utama menurutku adalah ketersediaan lapangan baseball itu sendiri, karena hanya kota-kota tertentu yang memiliki lapangan baseball, ya memang lapangan baseball bisa memakai lahan apa saja, namun tetap saja kurang afdol. Selain itu, menurutku, faktor pemerintah juga sangat berpengaruh, pemerintah pusat maupun daerah tidak tanggap dalam menangani cabang olahraga yang satu ini. Hal itulah mengapa baseball di Indonesia saya rasa kurang maju, eh tambahan, didaerah juga sangat jarang kompetisi baseball. Mungkin, karena keterbatasan alat. Jika memang ingin memajukan cabang ini, pemerintah harus menanganinya dengan serius, jangan setengah2, dan dengan koordinasi yang baik tiap daerah

    ReplyDelete
  3. menurut saya dinegara kita belum mwndukung olah raga baseball & masih banyak yang belum tahu tentang badeball,jadi untuk mendukung olahraga ini harusnya dimasukkan kedalam ekstrakukuler,agar pelajar & mahasiswa lebih mengenal & tertarik dengan baseball

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Waahh.. sepertinya pertanyaan saya agak rancu ya, olah raga yang saya maksudkan secara general aja.. pertanyaannya sudah saya perbaiki :)

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. menurut saya pemerintah sudah cukup mendukung karena disekolah sudah ada berbagai macam ekstrakurikuler olahraga seperti sepak bola,bulu tangkis,basket,seni beladiri dan lainnya dan juga sudah sering diadakan pertandingan olahraga dikalangan pelajar,bahkan banyak juga pelajar yang diikutsertakan dalam perlombaan internasional

    sharazsa@gmail.com

    ReplyDelete
  8. Menurut aku sudah cukup meski hanya dalam bidang olahraga tertentu seperti sepakbola, bulu tangkis, basket dll. Terbukti banyak atlet" muda indonesia yg berprestasi hingga kancah asia dan dukungan pemerintah sangat berpengaruh besar untuk memotivasi anak" muda menjadi atlet profesinal :)

    Link share :
    http://twitter.com/Ana_On3/status/460636365772685312

    @Ana_On3
    aanaa929@gmail.com

    ReplyDelete
  9. Menurutku olahraga di kalangan pelajar Indonesia masih kurang.
    Di sekolah misalnya, ada berbagai macam kegiatan di luar pelajaran tapi untuk festival antar sekolah masih jarang di adakan. Kalau dari sisi pelajaran olah raga juga biasanya sebatas pemanasan dan permainan. Macamnya olah raga pun hanya olahraga yang umum, untuk renang, baseball, tenis jarang ada di sekolah. Mungkin juga terbatas oleh gedung sekolah yang kurang memenuhi.
    Di universitas, olah raga semakin jarang disentuh oleh mahasiswa. Mungkin hanya sekedar ukm, tapi selebihnya universitas jarang mau ikut campur jadi tidak heran jika ada orang yang selama menjadi mahasiswa tidak pernah berolahraga sekali pun.
    Jadi pada intinya olahraga di Indonesia masih kurang mendapat dukungan dan butuh lebih dipromosikan. Dalam artian bukan hanya olahraga seperti sepak bola atau badminton, tapi yang lain juga seperti renang yang sangat jarang dipromosikan di Indonesia

    https://twitter.com/mikyou4/status/460644656926060544
    artyas@ymail.com

    ReplyDelete
  10. Di negara kita memang sepertinya kompetisi-kompetisi Olahraga (OR) tidak seberapa disorot oleh media, karena media Indonesia rata-rata masih mementingkan topik-topik dengan rating tinggi, ketimbang harus menyediakan porsi khusus untuk menyoroti olahraga secara spesifik.

    Yang paling terlihat dukungannya di Indonesia, mungkin adalah Sepakbola, melihat setiap media baik televisi maupun koran, pasti menyediakan space yang cukup untuk olahraga satu ini. Setelah itu ada Badminton, juga Basket.

    Menurut yang saya ketahui, di Indonesia sebenarnya banyak kompetisi-kompetisi olahraga tingkat nasional yang diadakan setiap tahun. Kompetisi di tingkat daerah pun banyak diselenggarakan. Kompetisi ini diadakan baik oleh pemerintah maupun swasta.
    Tetapi, para peserta yang mengikutinya kebanyakan adalah dari peserta-peserta yang mendapat pelatihan khusus atau les privat, atau peserta dari sekolah-sekolah khusus Olahraga (di daerah saya ada SMANOR).

    Dari sisi pemerintah saya rasa sudah memberi dukungan yang cukup untuk perkembangan OR, khususnya Sepakbola. Dari pihak sekolah pun dapat dilihat dukungan dengan adanya beberapa ekskul OR, dan pasti ada anggaran untuk pengembangan di bidang OR, meskipun tidak banyak, dan untuk menggunakannya terkadang dipersulit (^_^")
    Sedangkan di tingkat Universitas pun sudah disediakan fasilitas berupa UKM-UKM Olahraga yang dapat dijalankan oleh para mahasiswanya.

    Sekian pendapat saya ini.
    Terima kasih sudah berkenan membaca. :)

    link share Facebook:
    https://www.facebook.com/Kyokupie/posts/4194958087714

    email:
    lilynohanakyoko@gmail.com

    ReplyDelete
  11. Di Indonesia, sebenarnya bisa saja menyamakan atau melebihi negara-negara maju seperti Jepang atau Inggris, khususnya di bidang olahraga, asal ada perhatian lebih dan porsi yang cukup. Keinginan anak-anak Indonesia untuk mengharumkan negeri sendiri lewat olahraga juga besar.

    Sayangnya, masih kurangnya pembibitan sejak dini. Masalah biaya jugalah yang menjadi kendala utamanya. Mereka yang punya uang lebih, bisa memasukkan anak-anak mereka di klub-klub atau sanggar-sanggar pelatihan yang punya koneksi ke tim pelatnas. Ini pengalaman pribadi yang gagal masuk klub bulutangkis yang harganya selangit.

    Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai sedikit mengikis pemikiran saya diatas tadi. Contoh nyatanya, tim sepakbola Indonesia U-19 yang mulai gemilang, bahkan bisa dibilang prestasinya bisa menyamai tim senior mereka.

    Selain mengambil bibit-bibit muda dari daerah dan lingkungan-lingkungan kecil yang tidak tersentuh oleh pemerintah, seharusnya sekolah pun menjadi pendukung utama dalam hal kemajuan prestasi dalam olahraga. Misalnya mengadakan UKM-UKM yang rutin.

    Niat para calon atlet sebenarnya ada, hanya dukungan dari sekolah, pemerintah serta seluruh masyarakatlah yang kini diperlukan.

    Sekian.
    Maaf bila kepanjangan.
    Semoga bermanfaat.

    share twitter:
    https://mobile.twitter.com/LuizaCha/status/460664510815404032?p=v

    email:
    luizacha91@gmail.com

    ReplyDelete
  12. jika pertanyaannya "Sudah cukupkan sekolah/universitas di negara kita mendukung program olah raga seperti di Jepang?" saya menjawab tidak cukup. karena masih banyak cabang olahraga di Indonesia yang belum didukung 100% oleh pemerintah ataupun masyarakatnya sendiri. kita tidak boleh menyalahkan pemerintah karena hal ini, ataupun sebaliknya. kita juga tidak bisa menyalahkan masyarakat.
    banyak cabang olahraga yang seharusnya menjadi "aset kebanggaan bangsa", malah sekarang tidak terdengar suaranya. contohnya saja, cabang olahraga Dayung. Cabang olahraga Dayung, kurang diminati pelajar di Kabupaten Kuningan. Padahal Kabupaten Kuningan punya sarana yang cukup memadai untuk kegiatan latihan olahraga ini, yaitu kawasan perairan Waduk Darma Kecamatan Darma. yang sering dimanfaatkan untuk latihan khususnya oleh para atlet dayung Kuningan, termasuk dalam menghadapi Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Jawa Barat tahun ini.
    tapi nyatanya, itu hanya semacam artikel biasa. seharusnya, masyarakat disekitar daerah tersebut terus melestarikan olahraga tersebut, juga pemerintahnya. seharusnya pemerintah juga mendukung apapun yang dilakukan masyarakat yang berkaitan dengan cabang-cabang olahraga.
    jika Indonesia memiliki 1 saja cabang olahraga yang benar benar menjadi ciri khas Indonesia, maka saya tidak ragu lagi, negara Indonesia akan menjadi negara yang terkenal di dunia. seperti contohnya jepang yang terkenal dengan olahraga baseballnya. Jika Jepang bisa, kenapa Indonesia tidak bisa? padahal warga negara Indonesia lebih banyak daripada Jepang atau negara terkenal lainnya. Sumber daya alam yang melimpah, daerah-daerah yang luas, itu bisa menjadi aset negara kita untuk memajukan cabang-cabang olahraga di Indonesia.
    Jadi, saya berharap kedepannya, masyarakat maupun pemerintah bisa sama sama berjuang untuk memajukan cabang olahraga "ala Indonesia". misalnya, pemerintah lebih memfokuskan hasil hasil kemenangan cabang olahraga tertentu oleh pemuda pemudi Indonesia, jangan selalu masalah bisnis, politik, atau ekonomi rakyat yang selalu dibahas menjadi Trending Topic. Pemerintah juga seharusnya membuat pertandingan Naisonal yang cukup besar tentang cabang olahraga yang belum terlalu dikenal oleh Indonesia. agar seua rakyat Indonesia tahu mempelajarinya. berhubung pertanyaannya tentang sekolah, seharusnya sekolah juga memfokuskan ekstakulikuler untuk olahraga. bukan hanya untuk tema sosial. misalkan pada hari weekend, sekolah mengadakan latihan olahraga kasti, baseball, sepak takraw yang tanpa dipungut biaya sepeserpun, agar semua siswa, bibit bibit negara, bisa menjadikan hal tersebut sebagai bahan baru untuk negara kelak. kita harus memajukan olahraga Indonesia di semua bidang.
    Masyarakat juga seharusnya tidak menganggap remeh tentang cabang-cabang olahraga di Indonesia. karna saya yakin, apapun yang dilakukan dengan usaha yang besar, akan menghasilkan usaha yang lebih besar:)) sukses selalu Olahraga Indonesia! :D

    share twitter:
    https://twitter.com/RiniSkndr/status/460693453257457664

    email:
    adityasukendar@gmail.com

    ReplyDelete
  13. Belum. Buktinya banyak.
    Sebagai contoh, dulu teman saya di SMP mau ikut kejuaraan bola. Minta surat dispensasi ke sekolah. Guru saya bilang, "Mau tanding bola aja, pengen dispensasi".
    Masa guru kaya gitu kan? Gak mendukung muridnya buat berkembang. Memang temanku itu biasa-biasa aja di kelas. Tapi siapa tau kan dia bisa jadi pemain bola yang hebat.

    Di kampus saya juga ga ada kegiatan/ekstrakulikuler yang berbau olahraga. Kalau mau futsal atau badminton ya ngadain sendiri.

    https://twitter.com/zoellula/status/460776091825618944
    zoellula.zn@gmail.com

    ReplyDelete
  14. Belum banget pastinya. Buat mengelola sebuah eskul aja, para anggotanya harus bikin proposal plus harus ngemis2 sama pihak sekolah. Kalau dikasihpun, belum tentu dana itu cukup. Belum lagi kalau ngadain even, kebanyakan kita harus mengandalkan sponsor dari luar.
    Dari gambaran di atas itu, jelas banget kalau sebuah eksul masih kurang dukungan.
    Tapi, ada juga kok sekolah/univ yang masih peduli. Tapi kepedulian itu biasanya hanya untuk eksul menonjol doang. Nggak semuanya.
    Namun mau gimana, kalau keadaan sekolah/univ emang lagi g bagus.
    Apalagi untuk sekolah di pedalaman. Ekskul hanya untuk memenuhi kurikulum. Kadang, malah cuma tulisan doang yang di pampang. Kenyataannya, nol besar. Waaaooo... padahal, minat siswanya tinggi. Lagi, ini karena dana.
    Harapanku sih, keberadaan ekskul nggak cuma jadi pelengkap, namun juga bisa jadi bagian besar dari proses pembelajaran di univ/sekolah. Karena, untuk tahu kemampuan siswa, kita nggak cuma butuh matematika, fisika, atau PPKN doang. Iya, nggak sih? Kita perlu pemacu diluar kelas, yaitu ekskul. :D

    Share : https://twitter.com/DeeLaluna/status/460777545776889857
    Email : dian_putu26@yahoo.com
    Twitter : @DeeLaluna
    Terima kasih, Mbak :D

    ReplyDelete
  15. Masih sangat kurang untuk sekolah-sekolah yang terletak di pedesaan. Kebanyakan peralatan olahraganya masih kurang memadahi. Dan juga lalangan yang jauh dari kata layak. Untuk cabang olahraganya sendiri kurang begitu diminati. Kebanyak anak akan lebih memilih olahraga sepakbola, basket, dan futsal. Padagal olahraga lain juga harus dikembangkan. Setidaknya pembinaan atau pencarian atlet/olahragawan untuk even-even olahraga baik nasional atau pun intetnasional, kan, bisa dimulai dari bangku sekolah. Harusnya pemerintah lebih memperhatikan ini. Bisa saja dengan memberikan bantuan peralatan olahraga, pembangunan fasilitas olahraga, pengadaan guru-guru olahraga yang berkualitas untuk sekolah-selolah yang di desa atau di kota kecil. Karena calon atlet unggulan juga ada di daerah terpencil bukan hanta di kota.
    Dan juga lebih banyak mengadakan even-even olahraga untuk siswa sekolah, mencangkup banyak cabang olahraga.

    Nama: Anis Antika
    Email: anis_antika@yahoo.com
    Twitter: @AntikaAnis
    Link share: https://twitter.com/AntikaAnis/status/460795428892442625

    ReplyDelete
  16. Menurut saya belum. Karena kurangnya sumber daya baik itu guru atau pelatih bahkan sarana-prasarana. Contohnya di sekolah saya. Ada beberapa ekstrakurikuler olahraga yang disediakan dan peminatnya juga cukup banyak. Tapi sayangnya itu tidak seimbang dengan sarana prasarana yang ada.
    Juga tidak semua sekolah memiliki guru yang memang atlet sehingga bisa ikut melatih dalam ekstrakurikuler tersebut. Jadi kebanyakan murid pada jam ekstrakurikuler hanya sekadar berlatih atau bermain-main saja. Tidak jarang ada yang duduk-duduk karena lapangan yang tidak memadai.
    Selain itu, saya pikir pihak sekolah juga kurang serius dalam membina ekstrakurikuler olahraga. Kebanyakan fokus ke ekstrakurikuler yang mengarah pada akademik seperti klub-klub mata pelajaran (walaupun tidak semua). Jadi saat akan ada pertandingan-pertandingan tertentu, sekolah kelabakan dalam menanggapinya.
    Mungkin ada juga sekolah yang hanya mengagungkan olahraga tertentu. Misalnya basket. Jadi, sekolah menaruh perhatian yang berlebih terhadap ekstrakurikuler basket dan ekstra yang lain terabaikan.

    Karena itu, ekstrakurikuler di sekolah khususnya di Indonesia menurut saya belum cukup untuk mengembangkan atau membina kemampuan murid. Sehingga murid-murid tersebut perlu untuk bergabung dalam klub-klub olahraga di luar sekolah.

    Nama : Resita Putri
    Email : resitaputri1@gmail.com
    Twitter : ResitaPutri_07
    Link share : https://twitter.com/ResitaPutri_07/status/461498435342831616

    ReplyDelete
  17. Aku ikutan ya kak! :) :)
    Jujur deh aku suka sama pertanyaan kakak di Giveaway ini :D


    Menurut saya pribadi belum cukup. Memang di Negara kita ini ada banyak jenis olahraga yang tak kalah menghasilkan banyak atlet-atlet yang sukses. Namun, tidak ada salahnya jika Negara kita ini mengembangkan potensi-potensi bibit atlet lainnya dengan menambahkan ekstrakulikuler olahraga yang lain. Saya bukannya menyuruh Negara ini untuk menyamakan eskul baseball atau yang lainnya seperti di Jepang. Saya cuma ingin Negara kita ini ada ciri khas tersendiri untuk menghasilkan dan mengembangkan bibit baru para atlet. Karena Negara kita ini Negara yang kaya. Tak hanya SDA-nya, SDM-nya pun sangat kaya. Banyak orang di Negara kita yang memiliki potensi, namun kita belum berkesempatam untuk mengembangkannya. Saya hanya tak ingin, Negara lain dengan seenaknya merendakkan Negara kita. Padahal kita memiliki potensi yang sama seperti mereka.


    Link share: https://twitter.com/feicloudsm/status/461533968957837312
    Twitter: @feicloudsm
    Email: nurdiani.soffa@gmail.com

    ReplyDelete
  18. Menurutku masih belum cukup, karena membina lebih lanjut talenta-talenta pada tingkat sekolah, kurang seriusnya pemerintah. Banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi ketika akan mengembangkan olahraga usia muda di tingkat sekolah. Bahkan beberapa sekolah tidak memiliki wadah yang resmi bagi para siswanya untuk menyalurkan hobi atau bakatnya dibidang olahraga, terkadang jikapun ada itu mati suri. Permasalahan lain adalah karena minimnya kompetisi pada tingkat regional yang resmi sekolah enggan membuka ekstrakurikuler olahraga seperti sepakbola, ketika para siswanya berusaha meminta agar dibuatkan, sekolah terkadang mempersulitnya karena dianggap tidak produktif. Sekolah seharusnya tidak mematikan potensi kreativitas karena dan hanya mengajarkan harus ini dan itu. Sistem latihan yang tidak intens juga mempengaruhi pembinaan tersebut, kadang mereka latihan intens ketika akan ada turnamen saja, jika tidak ada turnamen mereka sama sekali tidak latihan. Seharusnya hal ini lebih dikembangkan lagi di Indonesia karena pada dasarnya young talent adalah kekuatan yang luar biasa, karena orang muda fight with creativity dan tidak ada yang bisa membendung hal tersebut. Mungkin terkadang sarana prasarana tidak mendukung tapi hal itu tidak menjadi alasan untuk mengembangkan olahraga sepakbola pada usia muda. Lagi-lagi pemerintah juga harus turun tangan soal menyediakan sarana dan prasarana yang setidaknya memadai. Ironis sekali padahal dahulu Jepang mengimpor pemain dari Indonesia agar mereka bisa belajar dan sekarang kita malah tertinggal jauh dan berbalik mengimpor pemain dari jepang. Ini bukti bahwa pembinaan pada usia dini kita tertinggal jauh.


    Link share: https://twitter.com/biancanitta/status/461686794359037952
    Twitter : @biancanitta
    E-mail : biancanitta@gmail.com

    ReplyDelete
  19. menurut saya, di Indonesia sudah cukup mendukung program olahraga walaupun tidak seperti Jepang. Semua sekolah di jenjang apapun pasti ada pelajaran olahraga. selain itu biasanya ada ekstrakurikuler berbagai cabang olahraga. tetapi kebanyakan pelajaran olahraga itu untuk mengajarkan hidup sehat dan jarang untuk mencari bibit unggul terlebih pertandingan olahraga, paling hanya dalam classmeeting. selain itu, sebenarnya olahraga untuk pelajar masih kurang, memang sudah ada pelajarannya tetapi dalam penerapan di kehidupan sehari-hari bisa dikatakan sangat kurang. memang Indonesia sudah cukup mendukung tetapi belum maksimal. bahkan untuk penghargaan bagi para atlet yang mengharumkan nama bangsa juga masih kurang. walaupun begitu, kita sebagai warga negara harus ikut mensukseskan program olahraga. benar, seperti kalimat "dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat" dengan kita rajin berolahraga, tubuh kita akan sehat dan kita menjadi lebih kuat. kekuatan itu dapat digunakan dalam berbagai bidang, salah satunya untuk melahirkan ide ide kreatif agar Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju.

    link share
    twitter : https://mobile.twitter.com/Nanarara8/status/460657322826543104?p=v
    facebook : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1417634555166674&id=100007604290339&refid=17

    email : atayarani35@gmail.com

    Twitter : @nanarara8

    ReplyDelete
  20. menurutku sih, sebenernya ekstrakulikuler di Indonesia terutama di sekolah-sekolah itu udah lumayan bagus, sekarang banyak referensi yang bisa didapatkan untuk menambah wawasan tentang ekstra olahraga dari tempat lain. Tapi yang kurang adalah tempat untuk menunjukkannya dan publikasinya, memang ada pekan olahraga nasional, tapi diadakan beberapa tahun sekali, itu sangatlah kurang karena tidak semua ngkatan bisa mencicipi rasanya perlombaan. Kurangnya publikasi menyebabkan kurangnya pengakuan sehingga atlit dipandang rendah oleh orang lain sehingga membuat atlit malu mengikuti perlombaan. Dukungan moril sangat penting bagi atlit-atlit, itu akan menambah semangat mereka untuk menang dalam lomba. Atlit yang masih merangkap sebagai pelajar masih harus mengimbangi nilai sekolanhnya agar nantinya bisa lulus, meurut saya sabaiknya sekolah meringankan tugas sekolah untuk siswa itu agar dia bisa fokus ke pelombaan.
    oh iya, hadiahnya juga kurang :p

    Link Share:
    Facebook: https://www.facebook.com/kharisma.ilmi/posts/746332368721798?stream_ref=10

    E-mail: kharisma12@gmail.com
    Twitter: @kharisma123
    Facebook: Kharisma Choirun Ilmi

    ReplyDelete
  21. Menurut saya sudah cukup mendukung namun belum seperti di Jepang. Indonesia sebenarnya bisa lebih bagus daripada Jepang di bidang olahraga. Banyak anak-anak muda yang berbakat, namun banyak juga yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Contohnya seperti di sekolah. Banyak ekskul malah terkadang harus menunda kegiatan mereka karena kurang dana/biaya dari sekolah. Faktor lain adalah kurangnya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Satu teman saya ada yang sedang dipersiapkan untuk kejuaraan renang. Jadi setiap istirahat kedua, dia pulang sekolah selalu lebih awal untuk latihan renang. Namun yang membuat saya heran beberapa guru justru malah berkomentar didepan anak-anak yang sebenarnya tidak perlu alih-alih mendukung seperti "enak banget pulang duluan terus". Bukannya itu hal bagus ya dia membawa nama baik sekolah atau instansi yg dia wakili. Saya juga pernah bertanya secara pribadi dengan dia. Dia juga tidak nyaman harus pulang lebih awal setiap hari seperti itu karena selalu ketinggalan pelajaran, dalam arti lain dia tidak menikmati pulang lebih awal karena tuntutan harus berlatih renang, dan tidak seperti yang dikatakan oleh beberapa guru. Program pertandingan olahraga setingkat SMA juga sudah ada yaitu Olimpiade olahraga (02SN). Namun entah kenapa, program itu sepertinya dianggap tidak terlalu narik bagi sebagian siswa. Animo siswa-siswa di sekolah dalam menanggapi dan mendukung tim dari sekolahnya sendiri juga menurut saya tidak terlalu besar. Oh ya, kurangnya publikasi dan pengenalan juga mengakibatkan program 02SN ini seringkali terlupakan. Malah saya terkadang baru tahu ada 02SN setelah pengumuman pemenang dan pemberian piala kepada pemenang disekolah saya. Saya juga tidak tahu apakah 02SN itu menjadi ajang pencarian bibit untuk tim nasional negara ini. Kalau semisalkan tidak, berarti 02SN itu bisa dijadikan ajang pencarian bibit untuk tim nasional (dan selanjutnya di bina kembali dan dipersiapkan lebih matang), supaya lebih banyak siswa yang tertarik untuk berpartisipasi dan animo siswa yang tertarik dan mendukung juga semakin besar.

    Link share twitter:
    https://mobile.twitter.com/wolfhan88/status/461707774640914432?p=v

    Email:
    fabiolafabulous@gmail.com

    ReplyDelete
  22. Di Indonesia? Menurutku belum cukup. Meski beberapa olahraga seperti sepak bola (kelihatan dari seberapa sering pertandingannya nongol di tv), yang lainnya tidak. Teman-temanku juga banyak yang menggemari sepak bola. Meski saat aku sekolah olahraga basket adalah yang terlihat paling keren >.<

    Maryana
    https://twitter.com/ryana_maryana/status/461814990471565312
    amz_ochi_gnz@yahoo.co.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. link share yang di atas di delete >.<
      ganti yang ini https://twitter.com/ryana_maryana/status/461817244113072128 :D

      Delete
  23. menurut saya olahraga di Indonesia sudah cukup mendukung meskipun tidak sebaik olahraga di jepang. semua sekolah di Indonesia baik jenjang SD,SMP,SMA pasti ada pelajaran olahraga. namun saat pelajaran olahraga itu menurut saja hanya melatih siswa untuk hidup sehat kebanyakan pelajaran olahraga hanya di suruh guru berlari dan setelah itu boleh bermain terserah mau sepak bola/basket/voli atau yang lainnya (ini pengalaman saya selama duduk 11 tahun di bangku sekolah) pihak sekolah juga cukup serius tentang kegiatan olahraga di buktikan dengan kegiatan ekstra, kadang sekolah menyewa pelatih untuk ekstrakulikuler tersebut. pemerintah juga cukup antusias tentang kegiatan olahraga di buktikan dengan kegiatan o2sn yaitu perlombaan di bidang olahraga. menurut saya yang kurang adalah partisipasi siswa mengikuti kegiatan olahraga di sekolahnya

    link share twitter
    https://twitter.com/wulidana/status/461817561194053632

    email
    wulida.nadhila@yahoo.com

    ReplyDelete
  24. sudah cukupkah peran sekolah/univ utk mendukung program olahraga?
    saya rasa belum cukup.
    dari saya SD, SMP, SMK, perminggu jam olahraga hanya 2-3 jam.
    smentara ekskul yg digemari hanya sepakbola, futsal, basket, voli, badminton, dan renang.
    olahraga yg lain?
    entahlah.
    kebanyakan siswa jg tidak bisa menguasai semua olahraga yg ada. Olahraga di sekolah hanya untuk "penilaian" dan saya rasa tujuan utk meningkatkan kebugaran jasmani mjd no.2.
    bahkan banyak guru olahraga yg memberi nilai semaunya (asal gerak). Jadi banyak siswa yg menganggap olahraga tidak penting.
    padahal banyak bakat" yg perlu dikembangkan.
    fasilitas utk OR di masing" sklh pun tidak lengkap.
    apalagi yg desa. Yg jelas pemerataan fasilitas itu perlu.
    drpd meningkatkan program olahraga, kebanyakan dr sekolah/univ lebih memilih meningkatkan kegiatan yg berhubungan dengan otak.
    contoh:ipa,mtk,debat b.inggris dsb..
    OR sll di no.sekian..

    link => https://mobile.twitter.com/SouL_BF/status/461836112370356224?p=v
    email => bestfriendnownoknow@gmail.com
    :)

    ReplyDelete
  25. Kalau menurut saya, sekolah/universitas di Indonesia sudah mendukung program olahraga, tetapi mungkin belum maksimal. Biasanya bibit-bibit unggul dijaring dari pelajaran olahraga disekolah, setelah ditemukan kemudian dibina untuk diikutkan lomba. Nah, sayangnya kadang pembinaan hanya sebatas menjelang lomba, selanjutnya tidak terlalu diperhatikan.
    Tapi kalau dilihat dari segi kompetisi olahraga tentunya banyak event-event terutama yang diadakan dari pihak swasta yang diselenggarakan se-Indonesia seperti futsal, basket, sepak bola dll. Ini juga merupakan salah satu upaya untuk menjaring minat dan bakat dari atlet berpotensi.
    Di universitas juga udah banyak kok jenis-jenis olahraga dan bela diri dsb, jadi kembali lagi ke mahasiswanya apakah ingin mengembangkan bakatnya melalui wadah yang sudah disediakan atau tidak.
    Keluhan yang paling banyak diutarakan oleh para atlet adalah tidak bisa hidup dari prestasinya. Pemerintah atau Kementrian olahraga hanya memberikan reward pada saat mereka berjaya, sedangkan atlet yang udah pensiun kadang harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya.
    Ya, ini dijadikan cerminan aja sih semoga dunia per-olahragaan juga sama majunya seperti di negeri sakura sana serta makin banyak prestasi-prestasi dari bidang olahraga yang bisa mengharumkan nama Indonesia.

    Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta

    ReplyDelete
  26. menurut saya untuk di sekolah-sekolah itu masih kurang cukup perhatian terhadap kegiatan olahraga, mungkin dikarenakan pemerintah atau pihak sekolah masih berpikir kalau bidang akademik itu lebih menjamin masa depan anak-anak Indonesia. padahal tidak semua anak lebih menonjol dibidang akademik. untuk itu saya rasa pemerintah atau pihak sekolah jangan mementingkan bidang akademik tapi lihat apa bakat yang dimiliki oleh setiap anak itu.

    https://twitter.com/_AnggitaNP13/status/461860687229104128
    gita10tiwi@gmail.com

    ReplyDelete
  27. Kalau menurutku sih, untuk ragam jenis ekskul olahraga (di kota besar sih) udah cukup banyak. Tapi sebagian besar masih kurang support. Bukan cuma support dari sekolah/universitas aja, tapi juga dari keluarga dan masyarakat. Mindset orang Indonesia masih mengagung-agungkan nilai akademik sih, jadi terkesan meremehkan hal-hal di luar itu. Mungkin karena banyak orangtua yang beranggapan 'kalau jadi atlet, nanti mau makan apa?'. Nggak bisa disalahin juga sih, karena yang namanya orangtua (termasuk guru) mau yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka khawatir profesi altet itu nggak bisa menghidupi anak-anaknya. Kalo dari segi ini, mungkin pemerintah punya andil. Terkesan kurang menghargai atlet dalam negeri.

    Kayak lingkaran setan. Jarang ada atlet Indonesia yang bagus -> pemerintah kurang apresiasi -> orangtua-guru khawatir anak-anaknya 'nggak jadi apa-apa' kalo terlalu serius di olahraga -> nggak ada anak-anak yang bisa serius di bidang olahraga -> jarang ada atlet Indonesia yang bagus.

    Nah, tugas para calon atlet ini deh untuk meyakinkan orang-orang di sekitar mereka kalau mereka bisa 'jadi sesuatu'. Syukur-syukur kalo bisa memutus lingkaran setan itu.

    https://twitter.com/Y_fantazer/status/462043184693272576
    yusa.haruna@gmail.com

    ReplyDelete
  28. Wah kalau di Indonesia tentang ekstra kulikuler olah raga masih kurang bagus dan bahkan tidak ada di daerah-daerah. Mungkin di daerah perkotaan sudah mulai memadai sih, tapi kalau di daerah untuk di sekolah-sekolah, alat peraga untuk mata pelajaran olah raga saja tidak lengkap, apalagi ekstrakulikuler.

    Masih banyak saudara-saudara kita di daerah memegang bola basket saja tidak pernah. Yah paling banter olah raga yg sering kita temui di daerah ya sepak bola, voli dan bulu tangkis. Tapi itu juga tidak ada di ekstrakulikuler di sekolah, tetapi lebih pada permainan di lingkungan pertemanan saja :(

    Yah mudah-mudahan ekstrakuliler tidak hanya dapat dirasakan anak perkotaan saja, tetapu di daerah juga. Aamiin ♥♥



    Link FB:Komentar
    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=752166864816180&id=100000686208599&ref=stream&_rdr

    Link Twitter:
    http://twitter.com/ChiThut/status/462090565652197377

    Email: chicio.yahoo.co.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah typo
      Email: chicioo@yahoo.co.id

      Delete
  29. "Jepang cukup terkenal dengan program ekstra-kurikuler-nya yang berupa olahraga. Contohnya seperti Koshien yang merupakan salah satu pertandingan olahraga nasional antar SMU yang menjadi ajang pencarian bibit atlet untuk major league. Nah, menurutmu bagaimana dengan di negara kita? Sudah cukupkah sekolah/universitas di negara kita mendukung program olah raga seperti di Jepang?"

    ~ Bagi saya sekolah/universitas Indonesia yg berstandar nasional, kurang memperhatikan bakat2 muridnya selain bid. Akademis. Setiap sekolah di Indo pasti memiliki bid. Estrakulikuler ttp tdk di sediakan tenaga pengajar yg memadai. Mereka hanya di ajarkan hal-hal yg sangat dasar dan setelah itu, lepas. Hal ini mengakibatkan tdk adanya minat pd siswa itu sendiri. Selain itu, siswa2 lebih menyukai memasuki OSIS yg di anggap bergengsi dibanding keg ekskul. Guru2 pun terkesan cuek dgn hal-hal di luar bid akademis. Hal ini menyebabkan banyak siswa yg memiliki bakat terpendam tdk berkembang. Cth : Jk ingin menjadi seorg atlet bulu tangkis sebaiknya masuk ke tempat kursus bulutangkis bergengsi. Kenapa? Krna para pelatih cenderung merekrut dr sana di banding dtng ke skolh2. Dan ini membuat bid ekskul tdk diminati dan di anggap tdk berguna.

    Perlombaan antar sekolah jg cuma di anggap angin lalu. Kenapa? Krn perlombaan itu cenderung hanya di lihat oleh siswa skolah masing2. Dan org luar seakan tdk peduli.
    Hal ini terlihat berbeda jk di banding sekolah berstandar internasional yg banyak mengincar prestasi di berbagai bidang.

    Entah kenapa, saya merasa pemerintah telah salah menetapkan arti sekolah. Sekolah seharusnya tmpt dimana siswa dpt menemukan bakat, tujuan dan cita2 mereka. Bukannya tempat utk belajar menghitung dan membaca saja. Dan ijazah di atas segalanya.

    Secara umum, Indonesia telah memberi cukup banyak kegiatan seperti Jepang cthnya keg ekskul dan O2SN. Ttp Indonesia BELUM cukup usaha dlm mencapai dan menerapkannya.

    Link Twitter : https://mobile.twitter.com/noviriamelati/status/460788424308310017?p=v

    Email : melati17ria@gmail.com

    ReplyDelete
  30. menurut saya sih belum cukup. karena di Indonesia sendiri masih terbentur dengfan fasilitas dan infrastruktur yang terbatas. maka dari itu banyak olahraga yang tidak dapat dilakukan di sekolah/universitas. kalaupun ada, itu hanya sebagian kecil dari semua sekolah/universitas yang ada karena hanya sekolah/universitas yang berstandar internasional atau yang cukup terkenal dengan biaya yang sangat tinggi yang menunjang untuk diadakannya berbagai macm kegiatan di sekolah/universitas tersebut.

    Link : https://twitter.com/putribaweell

    email: Putristephanie20@gmail.com

    ReplyDelete
  31. Menurutku masih belum cukup kak. Kenapa? Karena di negara kita lebih dominan mementingkan akademik daripada non-akademiknya. Jadi pemerintah lebih fokus mendukung program akademik dan program olahraga hanya dipentingkan jika ada waktu (soalnya masih banyak yang perlu dipikiri dan diperbaiki dari negara kita ini. Belum lagi soal korupsi -_-)
    Jadi kalau masalah OSN, program-program adu otak baru didukung penuh :D
    Tapi olahraga seperti sepak bola dan bulu tangkis itu sepertinya sudah cukup memuaskan. Taufik Hidayat. Timnas U-19.
    Contoh, seperti di sekolah saya. Hanya olahraga tertentu yang mendapat dukungan ‘setengah-penuh’ dari kepala sekolah. Sepak bola, basket, bulu tangkis. Hanya sejenis itu. Dan perlombaan antar sekolah pun dilakukan bukan dari pemerintah/sekolah, tapi dari siswa-siswa tersebut yang mengadakan perlombaan itu sendiri (daftar dengan uang sendiri dan hadiah untuk pemenang juga dari uang yang dikumpulkan trsbt). Bukan untuk seleksi pencarian ‘bibit’ seperti di jepang tapi untuk mencari siapa yang paling jago. Heuh! Kesadaran manusia di negara kita ini juga kurang sih kak memaknai olahraga itu sendiri :D *sok banget bahasaku-_-*

    *rapal jampi keberuntungan* pengen si gajah imut itu kak :D *nunjuk Khokkiri
    Link Share : https://twitter.com/supernovaD_/status/462874386135932928
    sasaisnara@gmail.com

    ReplyDelete
  32. Menurutku? BELUM CUKUP. Kan pertanyaannya cenderung mempertanyakan apakah Indonesia sudah bisa mengembangkan olahraga asli negara sendiri seperti Koshien-nya Jepang? Belum sama sekali.
    Aku ini termasuk yang suka memperhatikan dunia olahraga di Indonesia. Kalau ingin membicarakan yang bagusnya dulu, sepak bola dan bulu tangkis aku rasa sudah mencukupi, karena dua olahraga ini sudah ngetren se-Nusantara. Dan melihat kesuksesan Timnas U-19, misalnya, aku bisa menyimpulkan bahwa sepak bola sekarang sudah didukung penuh dengan baik dan benar oleh pemerintah, yah lihat saja pelatihnya yang dikagumi orang banyak (termasuk aku). Itu bukti nyaqta kepedulian pemerintah. Bahkan pemain2 U-19 itu banyak yang diambil dari daerah dan mereka bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Nah, berarti dukungan untuk sepak bola sudah merata. Bagus.
    Kalau bulu tangkis sayangnya meskipun popularitasnya nggak kalah dengan sepak bola, tetapi perhatian terhadap 'bibit unggul' belum merata. Organisasi bulu tangkis kebanyakan hanya menyeleksi atlet yang sudah terdaftar di klub-klub ternama yang bayarannya mahal. Mereka tidak mau mencari bibit secara keseluruhan sampai ke pelosok daerah atau bahkan dari ekskul di sekolah pun tidak dilirik (ini pengalaman adekku).
    Lalu, bicara tentang olahraga asli Indonesia, lebih parah lagi. Pencak silat, misalnya. Di sekolahku sendiri tidak ada ekskul pencak silat, yang ada justru taekwondo. Begitupun sekolah lain menurut pengamatanku. Atlet pencak silat Indonesia juga belum sejago Timnas sepakbola jika dilombakan dalam skala Internasional. Miris aja sih, waktu nonton closing Sea Games tahun lalu, cabang pencak silat samasekali tidak dimenangkan oleh Indonesia, justru dikalahkan oleh negara lain yang notabene 'lebih rendah' dalam hal fasilitas olahraga. Aku benar-benar heran bercampur malu, bagaimana bisa olahraga milik sendiri lebih dikuasai orang lain? Ini pasti ada kaitannya dengan perhatian pemerintah yang masih sangat kurang bagi cabang olahraga pencak silat. Malah olahraga bela diri yang digadang2kan di setiap sekolah dan perlombaan di Indonesia justru yang berasal dari negara lain. Dan mereka bangga jika sudah menguasainya, sedangkan pencak silat mereka ogah mempelajarinya. Ckckck.
    Padahal pencak silat itu jurusnya lebih mantep karena buatan nenek moyang sendiri.

    Link share: https://twitter.com/meliarawr/status/462881948105736192
    email: ameliaura66@gmail.com
    twitter: @meliarawr

    ReplyDelete
  33. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  34. Sudah cukupkah sekolah/universitas di negara kita mendukung program olah raga seperti di Jepang?

    Kalo masalah sudah cukup atau belum sih menurutku sudah cukup tapi belum dimaksimalkan. Belum maksimalnya karena hanya beberapa olahraga saja yang diperhatikan seperti sepak bola, basket, voli, dan futsal. Sedangkan olahraga-olahraga lainnya mlempem :3 Cukupnya adalah banyak sekolah-sekolah yang mengadakan Kelas Olahraga, yang dimana murid-murid di kelas itu punya bakat istimewa di bidang olahraga dan bisa lebih maksimal mendalami bakatnya. Sayangnya masih sedikit masyarakat yang berminat bahkan yang tahu tentang Kelas Olahraga tersebut. Apalagi lingkungan sekitar juga mempengaruhi dengan pemikiran "enggak pinter akademik, enggak jadi profesor, ya enggak hebat" yang membuat enggak masuk ke Kelas Olahraga :3

    Link share: https://twitter.com/ilaciouss/status/462984064983498753
    Email: la_aulia97@yahoo.com

    ReplyDelete
  35. Kalau menurut pengalaman saya sih sepertinya belum cukup.
    Di sekolah saya, entah mengapa dukungan dari pihak sekolah lebih banyak untuk ekskul yang non-olahraga seperti KIR ataupun robotik, padahal di sekolah banyak kok yang minat di ekskul olahraga seperti kempo dan jiujitsu..
    Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan kurangnya dukungan pihak sekolah utk ekskul olahraga, salah satunya adalah masih adanya anggapan jika siswa "berprestasi" hanyalah siswa yang menonjol di bidang akademik. Stigma itu yang harusnya diubah sehingga bibit-bibit unggul para olahragawan ini bisa dipupuk sejak dini, seperti di Jepang.

    Arif Rizaldy
    @hajimemimi
    Email: hajimemimi01@gmail.com
    Link Share: https://twitter.com/hajimemimi/status/462991471939817472

    ReplyDelete
  36. saya juga ikutan meninggalkan jejak :D

    ReplyDelete
  37. Pemenang sudah diumumkan disini :

    http://irasbooks.blogspot.com/2014/05/pemenang-giveaway-blog-tour-cheer-boy.html

    pantengin terus blog ini yaaa... bakalan ada giveaway lagi dalam waktu dekat.
    terimakasih sudah berkunjung dan berpartisipasi dalam blog tour ini :)

    ReplyDelete