Sunday, January 28, 2018

The Left Ear by Rao Xueman




Judul               : The Left Ear
Pengarang      : Rao Xueman 
Penerbit          : Yilin Press
Tahun              : 2015
ISBN               : 9787544751933
Halaman         : 230
Rating             : 5 of 5 stars



There is something wrong with my left ear and if someone talks on my left side, I cannot hear. However, I suddenly have a crush on Xu Yi while he is attracted by the flirting girl Bala who wears green eye shadows. Brokenheartedly, I come across Bala by chance and we become friends. At the same time, I know about Bala's beloved boyfriend—Zhang Yang. After that, Bala dies in an accident. I become Xu Yi's girlfriend, but we break up eventually. Zhang Yang, because of the death of Bala, still cannot start his new life.



WARNING: SPOILER!

Selama tujuh belas tahun hidupnya, Li Er adalah seorang gadis yang bahagia. Sejak lahir Li Er memiliki masalah pendengaran di telinga kirinya. Pada hari-hari biasa ia sangat sulit mendengar dengan telinga kirinya tersebut, hanya suara samar dan kadang butuh diteriakkan dengan untuk bisa didengar Li Er di telinga kirinya tersebut. Dan bila ia sedang stres atau emosional, telinganya bisa dibilang tuli total. Walaupun memiliki cacat di telinga kirinya tetapi ia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.

Pada umur tujuh belas tahun, Li Er jatuh cinta. Pemuda yang ditaksirnya adalah Xu Yi, bocah emas di sekolahnya. Tampan, kaya, pintar dan juga ramah dengan masa depan yang cerah. Dari kejauhan Li Er memupuk rasa cintanya tanpa berani maju untuk mendekati pujaan hatinya.

Hingga suatu hari seorang gadis dari sekolah lain datang mengejar Xu Yi

Gadis itu bernama Li Bala. Ia gadis yang cukup terkenal di kota kecil mereka. Terkenal karena perangainya yang buruk dan sering disebut-sebut sebagai cewek nakal. Pengejaran Li Bala yang tak kenal lelah berhasil membuat Xu Yi jatuh cinta kepadanya.

Li Er pun penasaran. Apakah seperti itu gadis yang disukai oleh Xu Yi?

Ketika memasuki sebuah kedai mi, Li Er melihat Bala sedang duduk disebuah meja. Dengan berani ia duduk dihadapan Bala, yang membuat Bala cukup terkejut. Tidak banyak orang yang berani berhadapan dengannya. Dengan niat membully Bala mencuri cilantro dari mangkok mi Li Er. Bukannya pindah ke meja lain, Li Er malah menikmati mi-nya dengan tenang. Bahkan meminjamkan payung kepada Bala ketika ia hendak pergi menembus hujan lebat.

Sejak hari itu, Li Er dan Li Bala menjadi teman. Little Ear adalah panggilan kesayangan Bala untuk Li Er.


Bahkan ketika Bala memutuskan hubungannya dengan Xu Yi dan merubah bocah baik-baik itu menjadi seorang penjudi, pemabuk dan tukang berkelahi, persahabatan mereka tetap kuat. Bala tidak menyembunyikan satu rahasiapun dari Li Er. Tentang alasan kenapa ia mengejar Xu Yi dan merusak kehidupan pemuda tersebut. Juga tentang cintanya yang membara kepada Zhang Yang, yang kadang menyakitinya secara fisik dan mental.

Dan ketika Li Bala pergi, ia meninggalkan jejak yang mendalam dalam kehidupan Li Er, Zhang Yang dan Xu Yi.




Saya mengenal novel Little Ear karya Rao Xuamen ini pertama kalinya adalah melalui filmnya. Kenapa saya sampe nonton film ini? Karena lagi kepincut sama Yang Yang setelah nonton Love O2O! Hehehe….

Awalnya saya  pikir Yang Yang (berperan sebagai Xu Yi) bakal jadi tokoh utama pria di film ini, ternyata saya salah! Tapi biarlah, Yang Yang tetap ganteng dari awal sampai akhir :)

Dari awal nonton niat saya emang cuma mau mantengin Yang Yang saja, tetapi semakin lama menonton kok film yang kesannya muram ini jadi semakin menarik. Berawal dari kisah remaja para tokoh utama yang masih SMA dan kemudian berakhir setelah mereka menjalani karir masing-masing. Terlihat perubahan karakter para tokoh dari awal hingga akhir. Yang jahat menjadi baik dan yang baik terperosok ke lembah kehancuran. Dan juga ada cara pembalasan dendam yang manis, yang tidak menuntut si pemilik dendam untuk menjadi jahat dan keji.

Walaupun film ini memiliki ending yang bahagia, saya merasa kurang puas dengan interaksi para tokohnya. Saya ingin lebih mengenal para tokoh-tokohnya, mengetahui lebih dalam hubungan mereka.

Oleh karena itu saya mencari terjemahan novel ini. Dan saya tidak kecewa. Walaupun menyukai filmnya, saya lebih menyukai bukunya.

Saya  menyukai Li Er yang pemalu tetapi juga pemberani. Juga menyukai Xu Yi yang walaupun populer tetap merupakan siswa yang ramah, dan sangat mengasihaninya setelah kejatuhannya karena cinta. Juga saya menyukai Li Bala, yang walaupun dituduh sebagai cewek nakal tetapi sebenarnya adalah seorang yang kesepian dan tidak memiliki teman.

Satu-satunya tokoh dengan memiliki kesan pertama yang jelek bagi saya adalah Zhang Yang.

Seperti Xu Yi, Zhang Yang juga merupakan cowok populer di sekolah mereka. Ia adalah cowok miskin dengan ambisi tinggi. Untuk melancarkan jalannya agar bisa terus sekolah hingga perguruan tinggi Zhang Yang pacaran dengan Jiang Jiao, cewek paling kaya di kota mereka. Jiang Jiao sangat mencintai Zhang Yang dan banyak membantu cowok itu secara finansial.

Sejak pertama kali melihat Zhang Yang bermain basket, Li Bala sudah jatuh cinta. Ia mengejar Zhang Yang, tidak peduli kalau cowok itu sudah punya pacar. Pendekatan Bala kemudian diterima Zhang Yang. Ia mau berhubungan dengan Bala kalau cewek itu bersedia mengikuti syarat-syaratnya, Li Bala harus merusak Xu Yi dan hubungan mereka harus dirahasiakan hingga misi Bala berhasil dilaksanakan.

Apa saya sudah katakan kalau saya tidak menyukai Zhang Yang? Cowok itu begitu licik, dan saat emosional ia juga pernah menyakiti Bala secara fisik. Saya meringis saat melihat di film Zhang Yang menendangi perut Bala dengan lututnya. Li Er yang menyelamatkan Bala dari serangan Zhang Yang tak habis pikir, bagaimana bisa kau mencintai orang yang  menyakitimu seperti itu?
“Little Ear, do you know? When you love someone, you can do anything for him.”
Tetapi kemudian Li Bala meninggal dunia. Dan kisah di buku ini kemudian seperti terbalik 180 derajat.

Zhang Yang yang sebenarnya juga mencintai Li Bala sangat menyesali kepergian gadis itu. Bala adalah satu-satunya gadis tempat ia bisa bicara bebas sebagai dirinya sendiri. Ia menceritakan rahasia-rahasianya dan mimpi-mimpinya kepada Bala. Mereka berdua adalah manusia-manusia kesepian yang saling menemukan. Ia menyalahkan dirinya sendiri akan kematian Bala.

Li Er juga menyalahkan Zhang Yang atas kematian Li Bala.

Walaupun Zhang Yang telah pindah ke Beijing untuk kuliah, ia tetap mengikuti perkembangannya. Tidak lupa Li Er mengirimkan pesan-pesan singkat kepada cowok tersebut. Menanyakan kabarnya dan kadang mendoakan kesehatannya. Karena Li Er tahu, kalau Zhang Yang melihat sms tersebut cowok itu pasti akan teringat kepada Bala, dan Li Er tidak ingin Zhang Yang lupa akan Bala dan apa yang telah dilakukan cowok tersebut kepada teman baiknya.

Dari sini pandangan saya terhadap Zhang Yang mulai berubah. Saya menjadi sedikit lebih menyukainya. Apalagi saat ia berusaha melepaskan diri dari Jiang Jiao dengan mulai mencari pekerjaan yang bisa menyokong kehidupannya selama kuliah.

Dan saya jadi suka sekali kepada Zhang Yang karena setiap kali pulang ke kampung halamannya, ia akan mencari Li Er. Awalnya merupakan pertemuan-pertemuan tak disengaja hingga akhirnya Zhang Yang selalu menyempatkan diri bertemu Li Er walaupun ia hanya berkunjung sehari saja ke kota mereka.

Li Er juga merasakan perubahan-perubahan dalam diri Zhang Yang. Makin lama rasa benci di hatinya menghilang dan mulai tumbuh perasaan lain terhadap Zhang Yang.
Bala, let’s both stop hating, okay?
Seperti yang saya katakan di awal tadi, saya membaca novel ini karena ingin melihat interaksi Zhang Yang dan Li Er yang lebih mendalam dibandingkan yang ditunjukkan di film. Dan semua momen-momen kecil yang memperlihat perasan kedua orang tersebut terhadap satu sama lain saya temukan di buku ini.


Saya tersenyum ketika membaca tentang Zhang Yang yang mengantar Li Er ke perpustakaan dengan naik sepeda, ikut sedih ketika Li Er berjalan menjauh dari Zhang Yang dan bertekad untuk tidak menoleh ke belakang. Momen-momen seperti ini yang tidak saya temukan di film. Proses yang membuat mereka berdua saling jatuh cinta.

Walaupun begitu, saya juga menyukai filmnya. Karena ada bagian-bagian yang ada di film yang tidak ada di buku. Seperti ketika Zhang Yang menolong seorang gadis yang mobilnya jatuh ke laut. Saat menolong gadis tersebut Zhang Yang merasa seperti sedang menolong Li Bala dan pada moment tersebut ia merasa mendapatkan pengampunan dari gadis tersebut.

Kalau di buku cerita diakhiri saat mereka masih kuliah, di film cerita berakhir saat tokoh-tokoh utamanya sudah memasuki dunia kerja. Ini juga merupakan salah satu bagian dari film yang saya sukai. Dan walaupun adegan terakhir berbeda antara film dan buku, saya menyukai keduanya.

Di buku adegan terakhirnya adalah saat Li Er mendapati kalau Zhang Yang menunggunya di atap bangunan tua tempat mereka pernah bermain kembang api. Tempat tersebut merupakan tempat rahasia Bala yang dibaginya bersama Zhang Yang. Disana juga Zhang Yang mengucapkan kata cintanya kepada Li Er, di telinga kirinya.

Sementara di film diakhiri dengan Zhang Yang mengejar Li Er ke dalam bus, duduk di sampingnya dan mengucapkan kata cinta di telinga kiri Li Er. Senyum kebahagiaannya di wajah mereka sangat manis terlihat.
Do you know, medical experts have proven that sweet words have to be spoken into the left ear.

Dan kali ini, Li Er bisa mendengarkannya.

Satu hal yang menggantung di cerita ini bagi saya adalah bagaimana nasib Xu Yi selanjutnya. Saya merasa kasihan kepada tokoh yang satu ini, karena sebenarnya ia adalah korban kesalahpahaman dan menjadi tokoh yang paling menderita di cerita ini. Selama delapan belas tahun hidupnya dijalani dengan bahagia. Tetapi setelah bertemu Li Bala bencana seperti tak henti-henti mendatanginya.

Xu Yi berubah dari pemuda baik-baik menjadi seorang berandalan. Pelajarannya menjadi tertinggal dan ia hanya bisa lulus di perguruan tinggi kelas tiga, sementara Zhang Yang lulus dengan gemilang di perguruan tinggi terbaik di Beijing. Selain itu ibunya meninggal karena kanker dan ayahnya dijebloskan ke penjara karena tuduhan korupsi. Dan akhirnya ia pun kehilangan Li Er karena kesalahan-kesalahan yang terus dilakukannya.

Saya berharap ada sebuah cerita lain dengan Xu Yi sebagai tokoh utama. Berharap cowok ini bisa merubah kembali kehidupannya dan bisa mengambil pelajaran dari kepahitan masa lalunya. Dan juga berharap, kalau ada film khusus tentang Xu Yi ini akan tetap diperankan oleh Yang Yang. Biar saya bisa puas menatapnya. Hahaha…

Tetapi untuk kisah kali ini, saya pun jatuh cinta kepada Zhang Yang :)






2 comments:

  1. where can i read this books ?

    ReplyDelete
  2. coba cek disini :)

    http://novelonlinefree.com/novel/the_left_ear

    ReplyDelete